Minggu, 01 Mei 2011

Permainan Tradisional Anak, Riwayatmu Kini...

Saat ini, permainan tradisional kian tersisih, tertinggal bahkan terlupakan. Padahal dulu permainan tradisional anak-anak begitu marak. Dengan majunya perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, permainan tradisional anak-anak Indonesia mulai tergantikan dan jarang ditemui. Anak-anak lebih suka menonton televisi, bermain playstation, game online, dan berbagai permainan virtual lainnya.

Ada beberapa faktor penyebab hilangnya permainan anak tradisional ini:
1.   Sarana dan tempat bermain tidak ada,
2.   Adanya penyempitan waktu, terlebih lagi semakin kompleknya tuntutan zaman terhadap anak yang semakin membebani,
3.   Permainan tradisional terdesak oleh permainan modern dari luar negeri dimana tidak memakan tempat, tak terkendala waktu baik itu siang hari, pagi, sore ataupun malam bisa dilakukan, serta tidak perlu menunggu orang lain untuk bermain,
4.   Terputusnya pewarisan budaya yang dilakukan oleh generasi sebelumnya dimana mereka tidak sempat mencatat, mendata, dan mensosialisasikan sebagai produk budaya masyarakatnya kepada generasi di bawahnya. Budaya instan yang sudah merasuk pada setiap anggota masyarakat sekarang juga memberikan sumbangan hilangnya permainan tradisional. Kita selalu terlena oleh budaya cepat saji, yang penting sudah tersedia dan siap “dimakan “ tanpa harus melalui proses.

Berikut beberapa permainan tradisional anak yang banyak dijumpai di berbagai pelosok nusantara.
1.   Petak Umpet
Siapa yang tidak kenal dengan permainan yang mendunia ini? Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja sebagai tempat jaga supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi.
Jika si "kucing" menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh tempat jaga. Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.

2.   Main Kelereng
Dua atau tiga orang anak (biasanya laki-laki) masing-masing memegang kelereng, melemparkan kelereng ke dalam area garis yang telah disepakati besaran dan luasnya. Kelereng yang paling dekat dengan garis tegah, berhak menembak kelereng lawan lebih awal dengan menggunakan jari. Jika kena, kelereng yang terkena berhak diambil oleh penembak, demikian seterusnya.

3.   Lompat Tali Karet
Permainan tali merdeka tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya. Biasanya anak perempuan yang lebih banyak memainkan permainan ini.

4.   Bola Bekel
Biji bekel dibuat dari logam. Terdiri dari empat biji bekel dan satu bola bekel. Logam ini memiliki bentuk yang khas. Terdiri dari permukaan kasar yang ditandai dengan lubang-lubang kecil di permukannya berjumlah lima titik, permukaan halus yang ada tanda silang atau polos sama sekali, permukaan atas yang ada bintik merahnya, dan permukaan bawah yang tidak ada tanda catnya.
Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar dan melempar bola ke atas dan menangkapnya setelah bolamemantul sekali di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau bola memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati.

5.   Engklek
Engklek merupakan permainan tadisional lompat-lompatan pada bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah. Permainan ini berbentuk kotak-kotak yang menyerupai tanda tambah namun memiliki kotak-kotak. Pemain harus loncat dengan menggunakan satu kaki dari kotak satu ke kotak, sambil memegang sebuah pecahan eternit untuk dilemparkan ke masing-masing kotak dan kemudian melakukan lompatan ke dalam kotak-kotak tersebut. Setelah selesai lompat ke semua kotak, pemain mengambil pecahan enternit tersebut kemudian dilemparkan lagi kotak selanjutnya tapi dalam melempar tidak boleh melebih batas kotak yang telah disediakan jika melebihi batas kotak yang telah disediakan maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lagi.

6.   Bentengan
Bentengan adalah permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing-masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, pohon atau pilar sebagai 'benteng'.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan dengan menyentuh pohon, tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan ketika menyentuh markasnya. meneriakkan kata “benteng”.

7.   Ular-ularan
Perlu dua kelompok untuk memainkannya. Masing-masing kelompok berbaris ke belakang dengan memegang bahu teman di depan. Anak yang terdepan berperan sebagai ular. Bagian belakang dan tengah merupakan badan dan ekor “ular”. Ketika ular bergerak, semua anggotanya juga bergerak meliuk-luik mengikuti sang kepala ular. Biasanya kedua kelompok saling “terkam”, mengambil anggota lawannya. Bagi yang tertangkap, artinya si anak menjadi anggota baru kelompok lawan.

8.   Pecah piring (boi-boian)
Permainan ini menggunakan bola kasti yg harus digelindingin sama satu tim supaya kena tumpukan genteng yg udah disusun tim yg lain . .lumayan seru

9.      Patok Lele
Anak patok lele yang dimasukkan dalam lobang tanah kemudian dipukul ujungnya sehingga melintang ke atas, dan setelah itu dipukul sekuatnya ke depan.

10.   Masih ada banyak lagi permainan tradisional anak lainnya: gobak sodor, congklak, bakiak, egrang, kucing-kucingan dan lain-lain yang tentunya seru untuk dimainkan dan memiliki nilai edukasi dan moral yang positif bagi anak-anak.




Mari kita lestarikan budaya permainan tradisional Indonesia, sebelum nantinya diklaim oleh bangsa lain sebagai milik mereka.

0 komentar :

Poskan Komentar

Silakan gunakan bahasa yang sopan, tidak mengandung SARAPP (suku, agama, ras, politik, dan pornografi/pornoaksi)

Komentar Anda membuat saya untuk lebih berbenah diri.