Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2016

PESTA DEMOKRASI (Katanya)

Bagaimana sikap kita saat ada yang mengundang kita ke pesta hajatan besar? Saat pihak yang mengundang pesta sudah merencanakan dari jauh-jauh hari sebelumnya, dengan anggaran biaya pesta yang jor-joran, dan melibatkan seluruh warga karena pesta tersebut diganyang akan menentukan nasib kita selama lima tahun ke depan? Tentunya kita akan menyambut gembira undangan tersebut dan berusaha memenuhi untuk menghadirinya.
Tapi rasanya tidak sama dengan pesta demokrasi yang digelar hari ini di Kalteng. Antusiasme warga terhadap perhelatan akbar ini terasa kurang sekali, walo katanya akan menentukan masa depan Kalteng selama 5 tahun ke depan.
Nasib Cagub-cawagub di tangan kita. Lhaa... nasib kita di tangan siapa??
Entahlah karena jemu dengan cerita praktek kecurangan yang acap dilakoni di setiap episode demokrasi yang dibumbui dengan politik uang, atau muak dengan kisah para pemimpin yang sering lupa membuktikan janji-janji manis mereka saat tebar pesona di masa kampanye, atau karena masyarakat yang semakin bijak dalam memilah dan memilih; yang saya amati hari ini Pilgub Kalteng terkesan suam-suam kuku.
Okelah saya mengacungi jempol atas kesiagaan dan kesigapan para aparat menjaga keamanan dan ketertiban selama masa-masa kampanye, masa tenang, hingga hari-H di tengah-tengah sempat merebaknya kecemasan masyarakat pasca digugurkannya salah satu pasangan calon. Selain itu, masyarakat terkesan apatis.
Layaknya hari ini, jam 8 pagi saya sudah pergi naik sepeda ke warung untuk belanja kebutuhan dapur, melewati TPS terdekat di RT tempat saya tinggal. TPS-nya sepiii... tidak terlihat aktivitas warga, hanya 1-2 orang petugas.
Setibanya di warung, berbasa-basi dengan ibu-ibu yang juga sedang belanja.
Saya (S) : "Nyoblos ga, Bu?"
Ibu (I) : "Ga eh, mbak... saya males dan ga ngerti. Saya ga kenal juga siapa orangnya. Ga ada efeknya buat saya"
Nah... saya bingung berpanjang lebar kalo sudah terucap begitu.
Saya sendiri juga tidak memilih bukan karena alasan tidak kenal dengan pasangan calonnya. Lhaa iyalah... mereka bukan saudara atau keluarga saya, apalagi pacar atau mertua saya. Ada hal-hal kritis yang saya yakin tidak perlu saya umbar ke publik karena itu juga terkait kerahasiaan hak pilih saya dan netralitas saya sebagai aparatur negara.
Hanya saja, saya tidak menyukai politik! Betapa saya telah melihat dengan mata kepala sendiri dan merasakan langsung bagaimana orang-orang yang dulunya berkerabat dekat bisa menjadi berseberangan hanya karena politik. Orang-orang yang biasanya berkawan menjadi lawan berseberangan, yang biasanya akur dan akrab menjadi saling menjelekkan dan saling menjatuhkan.
I'm just not into that...
Coretan Selengkapnya...

KALTENG MEMILIH

Sobat Warna-warni, terutama yang tinggal di wilayah Kalteng... mana nih jarinya udah dicelup tinta di TPS terdekat belum? Saya sih belum. Lebih tepatnya tidak.  Hehehe...
Yupp... hari ini, 27 Januari 2016 Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng serentak dilaksanakan di 13 Kabupaten dan 1 Kota. Pilkada langsung ini  ini ditunda setelah sebelumnya Pilkada serentak yang diadakan seyogyanya 9 Desember 2015 kemarin ditunda karena pasangan Cagub-Cawagub nomor urut 3 H. Ujang Iskandar - Jawawi dibatalkan terkait pelanggaran kode etik. Akhirnya hanya tersisa 2 pasangan calon, yakni pasangan nomor urut 1 H. Sugianto Sabran - Habib H. Said Ismail , dan pasangan nomor urut 2 Willy M. Yosef - H.M. Wahyudi K Anwar.

 

Ada beberapa tips nih bagi pengguna hak suara saat pilkada berlangsung (sebenernya kurang pantas juga yaa saya memberikan tips, toh saya sendiri pun alpa menggunakan hak suara saya);
1. Sebelum berangkat ke TPS, ada baiknya kamu mandi dan sikat gigi terlebih dahulu. Jangan lupa berdandan dan berpakaian yang rapi dan wangi, kali-kali aja tuh ada yang cakep di TPS yang bisa kamu pantengin.
2. Bila perlu, pamit cium tangan ke orangtua. Ga usah lama-lama, apalagi sambil bertangisan segala kayak orang yang mau merantau bepergian jauh. Khan TPS-nya cuma dekat, tiga langkah dari rumah. (Kayak lagu dangdut aja dah!)
3. Bila sudah di TPS, antri lah. Ga perlu berdesak-desakan seperti antri sembako murah. Duduk manis di kursi-kursi yang telah disediakan. Jangan duduk semaunya kayak di warung.
4. Tukarkan surat pemberitahuan/ surat panggilan dari RT setempat ke panitia untuk ditukar dengan surat suara. Hati-hati jangan sampai tertukar dengan surat tanah yaa...
5. Bila sudah menerima surat suara, segera bawa ke bilik suara. Jangan dibawa ke penghulu.
Bukalah lembaran surat suara sebelum dicoblos, siapa tau petugas salah memberi surat. Yang dikasih malah surat cinta.
6. Cobloslah pasangan calon yang dimaui, ga perlu mendesah.
7. Jika sudah selesai, lipat kembali lembaran surat suara dengan rapi. Masukkan ke dalam kotak suara. Ga perlu difoto selfie segala deh di dalam bilik suara. Karena hal itu jelas-jelas dilarang di UU Nomor 8 Tahun 2015.
8. Keluar dari bilik suara, jalannya biasa aja. Ga usah banyak gaya dan berasa kayak selebriti papan atas yang maju mundur cantik.
9. Celupkan jari ke dalam botol tinta yang sudah disiapkan oleh petugas. Tintanya ga usah diaduk diremas seolah-olah baru habis makan. Ingat, itu tinta bukan air kobokan.


Coretan Selengkapnya...

Minggu, 05 Mei 2013

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL - SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL


Bulan MEI ini bangsa Indonesia memperingati 2 (dua) hari nasional sekaligus, yaknik Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, dan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei.
Kebangkitan nasional tentu sangat erat kaitannya dengan pendidikan nasional. Di tengah berbagai carut-marut dunia pendidikan Indonesia yang belakangan ini santer disoroti terlebih saat menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN), kita tidak boleh berkecil hati. Pendidikan adalah modal utama bangsa Indonesia agar lebih maju dan terpandang, memiliki moral dan ahlak, serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.

Miris rasanya melihat keadaan bangsa yang mana pejabat-pejabatnya tidak lagi malu mempertontonkan rangkaian demi rangkaian perilaku bejat dan nista, dimana korupsi bukan lagi dipandang sebagai hal yang tabu, korupsi dilakukan oleh pemuka-pemuka partai yang bernafaskan ajaran agama tertentu, korupsi marak dilakukan di instansi yang ironisnya adalah merupakan instansi pendidikan dan agama; aparat keamanan dan penegak hukum yang seyogyanya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat justru saling serang demi mempertunjukkan kekuasaan kesatuan mereka yang paling unggul; perilaku kriminal sudah menjadi wajah sehari-hari yang kita baca dan kita lihat di berbagai media, orangtua tega membunuh anaknya sendiri atau sebaliknya; generasi muda yang tidak mempedulikan budayanya sendiri tetapi lebih cinta kepada produk-produk impor dan budaya instan luar negeri, serta entah beragam lagi potret budaya dan pendidikan Indonesia yang tak cukup dibariskan dalam satu halaman tulisan panjang dalam blog.

Semoga Indonesia bisa benar-benar bangkit dari keterpurukan, bangkit menjadi lebih terdidik, bangkit dan sejajar dengan bangsa-bangsa beradab lainnya di dunia.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

SELAMAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Coretan Selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Perayaan Hari Besar dan Hari Raya Agama Dilarang

Kemarin iseng-iseng membolak-balik lembar demi lembar surat kabar lokal, lalu mata tertegun dengan headline besar di salah satu halamannya yang berjudulkan Perayaan Hari Besar dan Hari Raya Agama Dilarang: 2012, Efisiensi Instansi Pemerintah Diperketat.
Akhirnya saya pun langsung cek dan ricek beritanya di versi online yang merupakan induk dari surat kabar lokal tersebut. Ini dia beritanya (saya ambil beberapa paragraf yang cukup mengundang reaksi saja).

JAKARTA -- Langkah konkret dalam efisiensi anggaran negara mulai disiapkan. Kemenkeu dan Bappenas telah menerbitkan surat edaran (SE) bersama yang memuat sejumlah ketentuan untuk menghemat dan mengefektifkan anggaran negara. Mulai tahun depan, instansi pemerintah harus memperhatikan sejumlah program yang dibatasi hingga dilarang untuk dilaksanakan.
… … …
Agus mengatakan, dalam SE tersebut dimuat larangan kementerian/lembaga untuk memperingati atau merayakan hari besar, hari raya keagamaan, hingga hari ulang tahun kementerian/lembaga. Tak hanya seremoni, pemberian ucapan selamat yang menelan dana juga dilarang. "Pemberian ucapan selamat, hadiah, tanda mata, karangan bunga, dan sebagainya mohon untuk dapat tidak dilakukan," kata Menkeu.

Pesta untuk berbagai peristiwa, serta pekan olah raga untuk kementerian/lembaga, juga tidak boleh dilakukan. Namun, ketentuan itu dikecualikan untuk kementerian/lembaga yang menunjang fungsi olahraga. "Kegiatan-kegiatan seperti itu mohon kiranya untuk ditunda," kata Agus.

Waduuh… koq rasanya aneh dan membuat geli yaa, bukankah kebebasan memeluk agama itu adalah hak asasi tiap manusia yang paling universal sebagaimana juga telah berabad-abad lalu diperjuangkan di berbagai belahan dunia? Sebut saja Magna Carta, Bill of Rights, Four Freedom punya Presiden Flanklin D. Roosevelt, Declaration Des Droits De L’Homme et du Citoyen di Perancis, dan Universal Declaration of Human Rights atau Pernyataan Sedunia tentang Hak – Hak Asasi Manusia oleh PBB. Di Indonesia sendiri kebebasan beragama juga diatur dengan sangat jelas. Dalam UUD 45Pasal 29 ayat (2) disebutkan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Dalam Pasal 28E tentang Hak Asasi Manusia hasil amendemen UUD 1945 tahun 2000 juga disebutkan,
(1)  Setiap  orang  bebas  memeluk  agama  dan  beribadat  menurut agamanya…
(2)  Setiap  orang  berhak  atas  kebebasan  meyakini kepercayaan,  menyatakan  pikiran  dan sikap,  sesuai  dengan  hati nuraninya.

Bukankah ‘kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu’ termasuk untuk menaati hari-hari istirahat dan merayakan hari-hari libur dan upacara-upacara sesuai dengan ajaran-ajaran agama atau keyakinan seseorang? Nah, kalau memperingati atau merayakan hari besar, hari raya keagamaan, hingga hari ulang tahun kementerian/lembaga saja dilarang, mungkin sebaiknya konstitusi Negara ini perlu dikaji ulang lagi! Bukankah perayaan hari besar keagamaan dan hari ulang tahun institusi itu juga merupakan salah satu wahana untuk menjalin silaturahmi antar masing-masing personil??

Sedangkan kegiatan yang diminta dibatasi adalah penyelenggaraan rapat, seminar, dan lokakarya. Pemasangan telepon baru juga dibatasi. Menkeu juga minta penundaan pembangunan gedung baru yang tidak menunjang tugas pokok dan fungsi, misalnya mess dan rumah jabatan. Pengadaan kendaraan-kendaraan bermotor, kecuali untuk kendaraan fungsional seperti ambulan, kendaraan tahanan, dan kendaraan penyuluh, juga diminta ditangguhkan.

Nah, kalau untuk penangguhan pengadaan kendaraan dinas dan rumah jabatan sih saya setuju (banget) mengingat seringkali para pejabat yang mendapat fasilitas negara ini menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya. Lihat saja para anggota dewan yang terhormat yang pelesiran ke berbagai negara dengan menggunakan uang rakyat, ‘merengek’ minta dibangunkan gedung yang mengatasnamakan rakyat padahal sehari-harinya hanya bisa bolos, tidur dan tawuran saat sidang demi kepentingan rakyat. Bahkan yang lebih jeleknya lagi, pejabat justru mempertontonkan kelakuan bejat dan mesum yang sangat bertentangan dengan nilai dan norma sosial masyarakat. Praktek korupsi, kolusi dan nepotisme justru merebak di kalangan pejabat. Kendaraan plat merah berasa hak milik pribadi. Hahaha…
Ahh… cape mah kalau berbicara soal kelakuan para pejabat! Tidak bakal ada habisnya…

Satu yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa penyelenggaraan rapat, seminar, dan lokakarya juga dibatasi? Bukankah hal tersebut adalah salah satu media untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para aparat instansi pemerintah? Bukankah lokakarya juga salah satu wahana untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan dan bakat yang dimiliki oleh pihak-pihak terkait lokakarya? Mungkin perlu diperjelas lagi jenis rapat, seminar dan lokakarya yang dibatasi tersebut.

Dalam surat edaran juga diimbau untuk mengkaji ulang dan pembangunan gedung perkantoran baru apabila tidak sangat mendesak. Jika rencana pembangunan baru tetap dilakukan, instansi diminta menggunakan spesifikasi dan standar baru yang wajar dan efisien. Ukuran efisiensinya akan ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Agus mengatakan, efisiensi belanja di 2012, ditargetkan sama setidaknya dengan upaya penghematan di tahun ini. "Kita perlu menetapkan biaya belanja operasional di 2012 tidak melebihi biaya belanja barang 2011. Kita perlu menekan overhead cost, perjalanan dinas, honor-honor, dan lain-lainnya," kata Agus.
… … …

Yuukk… setuju deh dengan yang hal ini. Lebih baik meningkatkan kinerja dan pelayanan dulu baru membangun gedung perkantoran baru. Kemajuan suatu pembangunan bukan dinilai dari banyaknya bangunan fisik, tapi lebih kepada performa kinerja dan pelayanan yang diberikan dan kepuasan masyarakat sebagai pihak yang dilayani, sehingga dapat memberikan citra positif aparatur negara di tengah masyarakat.

Coretan Selengkapnya...

Jumat, 29 April 2011

Sambil Menunggu

Kedua pria ini sedang duduk menunggu. Pria yang satu adalah tukang ojek yang sedang menunggu calon penumpang, dan pria lainnya lagi menunggu antrian cuci cetak foto. Keduanya menunggu sambil merokok.

Hmm… bisa tidak yaa menunggu sambil melakukan apa yang bermanfaat gitu yang bukan merokok?? Main sudoku atau mengepel, misalnya…
Coretan Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

Traffic Light Ohh... Traffic Light

Biasanya kalau kita sedang berhenti di perempatan lampu lalu lintas, kita akan menunggu sesuai dengan penghitung waktu mundur (countdown timer) yang dipasang bersamaan dengan lampu tersebut.
timer ketika menyala 'merah'
timer ketika menyala 'hijau'
Keberadaan timer ini sangat membantu para pengguna jalan yang melintas di jalan raya, terutama dengan lalu lintas padat dan ramai. Pengendara dapat memperkirakan dengan tepat kapan ia dapat melintasi persimpangan dan berapa lama ia harus berhenti dan menunggu lampu kembali menyala hijau. Lampu lalu lintas dan timer dibuat dari lampu LED (Light Emitting Diode). Penggunaan LED sangatlah tepat karena selain hemat energi, terangnya LED dapat terlihat dari jarak 1 kilometer sehingga dari posisi sejauh ini para pengguna jalan dapat dengan mudah memperkirakan apa kondisi lampu lalu lintas ketika ia berada di persimpangan.

Nah, bagaimana reaksi teman-teman warna-warni jika sedang berhenti di lampu lalu lintas yang begini??

Atau yang satu ini?

Saya yakin dengan digit waktu yang tertera begitu, pasti deh teman-teman akan menyempatkan keluar dari kendaraan lalu mampir belanja dulu ke swalayan terdekat atau nongkrong makan bakso. Atau, sekalian ditinggal tidur deh. Zzzz…
Atau mending sekalian berbalik arah, mutar cari jalan lain.Monkey Icon
Coretan Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Mencintai Lingkungan di Hari Bumi 2011

Teman-teman warna-warni, hari ini tanggal 22 April 2011. Hari ini hari apa yaa? Setelah kemarin kita memperingati hari kartini, hari seluruh dunia sedang merayakan Hari Bumi. Apa tuh? Ya, itu satu hari yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi kita terhadap planet tercinta yang kita huni, yakni bumi.
Dapat kita lihat dan dengar di berita-berita sekarang, bumi kita tercinta ini makin lama dapat dikatakan semakin rusak dan tercemar. Telah terjadinya pemanasan global yang menyebabkan iklim di muka bumi ini makin lama semakin tidak teratur dan es-es di kutub utara maupun selatan mencair. Kebakaran hutan terjadi dimana-mana, banjir yang disertai tanah longsor, maupun lubangnya lapisan ozon di atmosfer bumi. Perlu diketahui bahwa, lapisan ozon ini merupakan lapisan yang melindungi bumi dan kehidupan di dalamnya dari radiasi sinar ultraviolet matahari yang berbahaya jika mengenai kulit.
Jangankan di berita, di kehidupan sehari-hari saja kita masih bisa melihat banyak sampah plastik maupun sampah jenis lainnya yang berserakan di pinggir jalan ataupun di sungai-sungai. Melihat hal ini, sungguh sangat memprihatinkan, kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal dan pikiran hendaknya dan patutnya bisa lebih menghargai dan menjaga tempat tinggal yang sudah diberikan oleh Tuhan ini secara baik. Bukankah kita sendiri juga yang akan menikmatinya? Jika bumi ini sudah terlanjur rusak, dimana lagi kita bisa hidup dan tinggal? Apakah ada yang bisa mengembalikannya lagi?
Mencegah bertambahnya pemanasan global juga perlu daripada mengatasi bumi yang sudah rusak ini. Kita dapat melakukannya dalam kegiatan sehari-hari di rumah, ataupun di lingkungan sekitar kita. Berikut beberapa hal sederhana namun memberi manfaat luar biasa yang seharusnya dilakukan :
1.    Gunakan lampu pijar hemat energi.
Sejumlah perusahaan lampu sudah membuat dan menjual lampu-lampu model hemat energi. Harganya memang jauh lebih mahal 3-5 kali harga lampu pijar biasa, tetapi energi yang bisa dihemat juga lebih besar, yaitu dapat mencapai ¼ listrik lampu konvensional. Lampu hemat energi 7 watt bisa seterang lampu pijar 40 watt, sedangkan lampu hemat energi 26 watt seterang lampu pijar 100 watt. Selain itu, lampu hemat energi juga tahan lama karena mampu bertahan lebih dari enam bulan meski pemakaian secara nonstop. Ada orang yang mempersoalkan kandungan merkuri, tetapi masih dalam batas normal. Meski hemat energi, tetapi jangan seenaknya dinyalakan. Nyalakan hanya di waktu malam hari atau keadaan gelap.
2.    Jangan membuka lemari es terlalu lama.
Makin lama pintu terbuka, energi listrik yang terpakai dan terbuang percuma juga kian besar. Sebab mesin pendingin terus bekerja sampai ruangan di kulkas mencapai suhu tertentu. Apabila ingin menaruh atau mengambil sesuatu dari kulkas, lakukanlah dengan cepat. Jangan membiarkan anak Anda bermain dalam posisi pintu kulkas terbuka terlalu lama.
3.    Matikan pendingin ruangan (AC), televisi, radio, komputer, dan peralatan elektronik lainnya bila sudah tidak dipergunakan.
Jangan membiasakan memasang peralatan elektronik dalam posisi stand-by. Biasakan mencabut alat listrik jika tidak digunakan. Biasakan juga untuk mematikan peralatan listrik (misal: televisi) tanpa menggunakan remote control. Komputer, misalnya, jika digunakan hanya empat jam per hari dapat menghemat Rp. 630.000,- per tahun dan dapat mengurangi emisi karbon 83% setahun.
4.    Mencucilah pakaian Anda dengan tangan Anda sendiri.
Di samping menghasilkan cucian lebih bersih, juga menyehatkan dan tidak boros listrik. Lalu, jangan juga menggunakan mesin pengering. Sebab uap mengeluarkan gas yang mengandung karbondioksida. Dalam jangka waktu lama, baju yang dikeringkan bisa mengeluarkan 4 kg gas CO2 ke udara. Jadi gunakan cara alami untuk menjemur pakaian di udara terbuka.
5.    Hindari pemborosan air dengan menggunakan wastafel.
Membuka keran wastafel selama sikat gigi atau mencukur adalah bagian dari pemborosan Kegiatan sikat gigi memang tidak memakan waktu lama, hanya berkisar dua hingga lima menitlah. Tapi, membiarkan keran terbuka selama dua menit sama dengan membuang air sebanyak 33 liter.
6.    Etanol bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar minyak di rumah atau sebagai bahan alternatif minyak tanah atau gas.
Ini berkaitan dengan terus melambungnya harga minyak dunia dan tingkat polusi yang makin parah. Etanol dapat diperoleh dari tanaman yang mengandung alkohol seperti tebu. Selain itu, bahan bakar nabati yang tengah dikembangkan adalah yang berasal dari kelapa sawit, jarak, tebu, jagung, dan ubi jalar. Anda tak perlu khawatir bahan bakar nabati bakal habis, sebab tumbuhan tersebut dapat ditanam kembali.
7.    Kurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor.
Pilihlah bahan bakar yang sesuai dengan kendaraan Anda yang dapat mendukung performa mesin dan mengurangi emisi gas buang. Bila perlu, kurangi penggunaan kendaraan bermotor, misalnya dengan berjalan kaki, naik sepeda atau naik angkutan umum ke tempat tujuan.
8.    Penuhilah pekarangan rumah dengan tanaman.
Tanaman dapat menyegarkan rumah dan pekarangan, juga menghindari cuaca panas dan terik matahari. Anda pun menghirup udara bersih dan mengandung banyak oksigen yang dikeluarkan tumbuh-tumbuhan. Salah satu tanaman yang menyerap CO2 adalah bambu. Selain tumbuh cepat, bambu juga lebih cepat menyerap CO2 dibandingkan beberapa tanaman lainnya. Mari dukung gerakan menanam satu juta pohon.
9.    Lindungi rumah dengan tabir surya.
Misalnya, jendela dipasangi kaca film, sehingga rumah tidak terlalu panas dan tidak perlu menggunakan AC.
10.  Usahakan rumah dilengkapi ventilasi yang cukup.
Ventilasi yang cukup akan memeberikan sirkulasi udara setiap hari. Buka jendela dan pintu lebar-lebar pada pagi hari agar udara pagi yang baik bisa masuk dan menggantikan udara yang kotor.
11.  Jangan membakar sampah di pekarangan rumah.
Asap pembakaran sampah mengeluarkan gas CO2 yang berbahaya bagi tubuh manusia jika terhirup. Pisahkan sampah yang dapat didaur ulang dengan sampah yang tak dapat didaur ulang. Sampah-sampah yang dapat didaur ulang (seperti kertas dan kaleng bekas) dapat digunakan lagi bila diperlukan.
12.  Jangan membawa tas-tas plastik ke rumah.
Daripada membeli air minum dalam kemasan botol plastik, bawalah air dalam termos minum saat bepergian. Mintalah kantong belanja secukupnya kepada penjual, dan gunakan kembali plastik kantongan tersebut saat akan berbelanja kembali. Bahan-bahan yang terbuat dari plastik sulit didaur ulang. Di dunia, dari sekitar 500 milyar tas plastik yang didistribusikan, hanya kurang dari 3% yang didaur ulang. Jika tertanam dibawah tanah akan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan bercampur dengan tanah. Sebagai alternatif, bawalah tas-tas yang terbuat dari kertas atau material yang gampang didaur ulang.
13.  Biasakan menggunakan saputangan dibanding tisu.
Untuk menghasilkan sekotak tisu, satu pohon akan mati ditebang. Gunakanlah saputangan yang apabila kotor dapat dicuci kembali.

Mari mencintai lingkungan untuk kehidupan di bumi yang lebih baik.
Coretan Selengkapnya...

Senin, 18 April 2011

Seandainya Ibu Kartini masih Hidup...


Wah tidak terasa tanggal 21 April tinggal beberapa hari lagi. Hayooo…pastinya pada tahu donk itu hari apa? Yup, betul banget – hari Kartini. Emang siih, semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai sekarang berada di dunia kerja, euforia hari Kartini tidak begitu terasa. Mungkin karena saya tidak (pernah) lagi secara langsung ikut berpartisipasi dalam acara ini, dan juga sekarang ini kegiatan perayaan memperingati hari Kartini tidaklah semeriah zaman dulu yang diramaikan oleh berbagai lomba baik dari tingkat SD hingga organisasi kewanitaan ibu-ibu, seperti lomba peragaan busana daerah (terutama kebaya), lomba mengarang bertema Ibu Kartini, lomba menyanyi, lomba memasak, dan berbagai lomba seremonial lainnya.
R.A. Kartini
Namun, sebenarnya peringatan hari Kartini mempunyai arti yang jauh lebih luas dan dalam daripada sekedar seharian mengenakan busana daerah ataupun berpartisipasi dalam berbagai macam lomba. Setidaknya, hadirnya hari Kartini setiap tahunnya adalah untuk mengingatkan kaum wanita untuk tidak menyia-nyiakan dan menyalahkaprahkan esensi dari kata 'emansipasi wanita' yang telah diperjuangkan oleh Ibu Kartini sepanjang hidupnya.


Di abad ke-21 ini – seperti halnya yang terjadi pada sebagian besar negara di dunia, apa yang diperjuangkan oleh Ibu Kartini yang dikenal sebagai emansipasi wanita ini boleh dibilang sudah menjadi kenyataan. Kaum wanita telah banyak yang memiliki gelar pendidikan setara dengan kaum pria bahkan ada yang melebihi. Akses pendidikan dibuat dengan mudah dan dibuka selebar-lebarnya untuk kaum wanita. Begitupun halnya dengan pekerjaan. Hampir semua macam lapangan pekerjaan telah ada partisipasi makhluk wanita di dalamnya, walaupun mungkin jumlah pekerja pria lebih dominan dibandingkan pekerja wanita, tapi setidaknya hal ini sudah menjadi tanda bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan oleh wanita. Banyak wanita yang juga telah menjadi pimpinan usahanya sendiri, bahkan seorang wanita juga pernah memegang puncak pimpinan pemerintahan tertinggi di Indonesia. Banyak wanita Indonesia yang juga telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Mudah-mudahan semua kemajuan dan pencapaian yang dilakukan oleh kaum wanita akan membuat Ibu Kartini dapat tersenyum bahagia di alam sana.
Megawati Soekarnoputri
Sri Mulyani Indrawati
Susi Susanti
Christine Hakim
Tapi mungkin Ibu Kartini tersenyum bahagia sekaligus juga merasa miris melihat makna emansipasi wanita Indonesia terkontaminasi oleh emansipasi wanita ala dunia modern. Emansipasi wanita lahir sebagai sebuah kesadaran pribadi mengembangkan kualitas, intelektual, kedewasaan dan karakter. Namun, konsep emansipasi perlu diwaspadai ketika emansipasi berubah menjadi gerakan pembebasan diri yang kebablasan!
Keberhasilan dari perjuangan isu gender dan juga gerakan emansipasi ternyata justru memicu intrik baru dalam proses tatanan sosial-kemasyarakatan. Padahal, ide awal dari isu gender dan gerakan emansipasi lebih mengacu pada bagaimana memberi peran yang sejajar dengan pria, bukannya memicu polemik yang kontradiktif!
Emansipasi wanita yang diidamkan oleh Ibu Kartini adalah emansipasi wanita yang tetap mengingat kodrat yang telah digariskan oleh Tuhan khusus untuk wanita, dimana selain berprofesi sebagai wanita pekerja atau wanita yang berkarir professional, kaum wanita juga mempunyai profesi dan posisi lain sebagai seorang istri untuk seorang laki-laki dan seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingannya. Ibu Kartini yang juga seorang perempuan Jawa tentunya sadar dan menghormati sekali ketentuan Tuhan ini. Ada begitu banyak profesi dan posisi yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada kita – kaum  perempuan, menunjukkan bahwa Tuhan sangat sayang dan mengistimewakan kaum wanita sekaligus menaruhkan kepercayaan-Nya yang sangat besar kepada kaum kita.





Sekarang, setelah satu abad lebih Ibu Kartini tiada, emansipasi wanita bukan lagi cita-cita tetapi telah menjadi realita yang sulit dimengerti. Di satu sisi, emansipasi wanita telah melahirkan pendekar-pendekar dalam bidangnya masing-masing yang sungguh membanggakan. Tetapi di sisi lain, akibat terlalu bebasnya pergaulan dan mudahnya arus informasi, justru kaum wanita yang menjadi korbannya. Sungguh ironis, karena keadaan yang semula begitu didamba oleh seorang wanita kini justru menjadi bumerang bagi kaumnya.




Seandainya Ibu Kartini masih hidup, apakah beliau akan bangga dengan keadaan sekarang, atau justru sebaliknya??

Coretan Selengkapnya...

Minggu, 03 April 2011

Tilang Elektronik, baik atau buruk?

April 2011 kali ini ada banyak peristiwa berkesan yang terjadi di tanah air, di antaranya kenaikan gaji PNS hingga mencapai 15 %, kenaikan harga bahan bakar jenis pertamax yang cukup membuat leher tercekik, dan pemberlakuan tilang elektronik di ibukota negara. Yang cukup menarik perhatian saya (dan sebagian besar masyarakat, tentunya) adalah pemberlakuan tilang elektronik. (bukan berarti saya tidak tertarik dengan kenaikan gaji PNS ini lhoo yaa… Saya justru malah gembira dan mensyukurinya!)

Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) alias Sistem Tilang Elektronik ini mulai diberlakukan 1 April 2011 di kawasan lampu lalu lintas Sarinah – Thamrin, Sudirman, Rasuna Said – Kuningan  dan Gatot Soebroto. Kawasan lampu lalu lintas Sarinah ini merupakan titik percontohan pertama sekaligus menjadi pilot project, yang mana bila nantinya dalam uji coba cukup baik, maka tidak menutup kemungkinan akan dilakukan pemasangan pada tiap perempatan di seluruh wilayah Jakarta.
Implementasi E-TLE ini berdasarkan pada Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dan mengacu pada Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transportasi Elektronik, khususnya pasal 5.

Jenis pelanggaran yang ditilang ada tiga, yaitu menerobos lampu merah, melanggar garis stop dan yellow box.
Sanksi yang diberikan untuk ketiga pelanggaran tersebut bisa digabungkan. Artinya, setiap satu pelanggaran tersebut sanksi denda maksimalnya adalah Rp 500 ribu, nah jika digabungkan, sang pelanggar bisa dikenai sanksi Rp 1,5 juta.
Di masing-masing traffic light dipasangi kamera cctv yang dilengkapi dengan sensor. Berikut ini langkah-langkah penerapan E-TLE.
1.  Begitu traffic light menyala merah, sensor akan aktif. Nomor polisi pelanggar lampu merah, stop line, dan yellow box yang terdeteksi sensor akan difoto.
2.  Bila ada nomor polisi yang tidak terbaca, rombongan VIP/VVIP, yang mendapat prioritas, atau pejalan kaki yang terfoto, petugas pengendali akan membatalkan proses tilang.
3.  Nomor polisi kendaraan pelanggar yang terekam kemudian dimasukkan ke dokumen tilang elektronik. Data kendaraan dan identitas pemilik otomatis muncul di dokumen tersebut.
4.  Dokumen tilang yang menyebut besaran denda dicetak lalu diautentifikasi petugas.
5.  Dokumen tilang dikirim ke alamat pelanggar dengan perintah menghadiri pengadilan atau membayar denda melalui bank yang ditunjuk. Bila pelanggar tidak menghadiri pengadilan atau membayar denda, maka akan dibebankan saat pembayaran pajak kendaraan. Atau yang paling apesnya, STNK kendaraan akan disita oleh kantor Samsat.

Sistem ini diterapkan dengan harapan dapat memperketat pengawasan terhadap pelanggaran lalu lintas terutama bagi pengendara yang kerap menerobos lampu merah, dan meminimalisir para pelaku pelanggaran yang suka ‘bermain mata’ dengan petugas di lapangan.
Hhmmm… kayaknya sih terdengar bagus ya, menciptakan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu-lintas di jalan raya, untuk mengerti bahwa jalan raya adalah milik bersama dan bukan milik buyut-babe-engkong atau apalah namanya itu. Mudah-mudahan ke depannya tidak akan ada lagi oknum-oknum yang menerobos lampu merah seenaknya ataupun menyerobot jalur kendaraan lain.
Cuma yang menjadi pertanyaan saya adalah, sampai kapan akan diujikan seperti ini sementara sosialisasi kepada masyarakat masih minim? Tahu sendiri khan bagaimana kelakuan masyarakat Indonesia (yang ‘katanya’ beradab dan bermartabat) yang masih memiliki tingkat kesadaran yang rendah terhadap hukum, dimana pengennya hukum itu ada justru untuk dilanggar? Misalnya, hari ini lagi asyik berkendara ehh tiba-tiba besok siang ada ‘surat cinta’ berwarna merah muda dari pihak kepolisian lalu lintas yang nongol di depan rumah. Si pelaku langsung mengajak massa satu kelurahan dan menyatroni lokasi kamera cctv, lantas kamera pun diotak-atik, dirusak dan dibobol sebagai bentuk pelampiasan protes dan kekesalan terhadap sanksi yang diterima.
Yang namanya fasilitas umum di tanah air mah tidak pernah bernasib baik, sering menjadi sasaran keisengan dan "wahana bagi warga untuk menyalurkan ekspresi". Lihat saja telepon umum, sudah tinggal sejarah dan jadi monumen saja dimana kabelnya banyak yang diputus, koin receh dalam box diambil paksa, dan dicoret-coret dengan kata-kata yang membuat geli dan gregetan. Lihat juga halte dan jembatan penyeberangan, yang menjadi tempat mangkal orang-orang yang tidak jelas dan beralih fungsi menjadi toilet yang berbau pesing. Lihat pula itu jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura. Awalnya masyarakat luas menyambut baik pembangunan jembatan tersebut, tapi lihat saja masih dalam hitungan beberapa hari beroperasi, sudah ada yang maling baut di konstruksi jembatan. Ah, masih banyak deh pokoknya fasilitas umum lainnya yang bernasib mengenaskan.

Apalagi kamera cctv untuk tilang elektronik itu khan cukup mahal dan memiliki resolusi yang cukup tajam hingga mampu menangkap nomor polisi kendaraan segala. Saya kuatir nantinya kamera itu akan ‘diambil paksa’ dan disalahgunakan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab (terinspirasi dari film-film sci-fi di televisi berbayar!)

Apapun itu, mari kita sambut baik niat pemerintah dalam rangka menciptakan lalu lintas yang tertib dan nyaman. Syukur-syukur ke depannya kota-kota besar lainnya di Indonesia juga akan menerapkan hal yang sama, tanpa terkecuali.
Coretan Selengkapnya...