Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Mei 2011
Tentang Hidup
Hidup itu layaknya deretan kata yang hanya menyisahkan beberapa spasi.
Terkadang kita butuh koma
untuk mengistirahatkan perjalanan kita.
Sering kali muncul tanda tanya
saat kita kehilangan arah.
Sesekali juga menghadirkan tanda seru
saat kenyataan tak sesuai dengan yang diharapkan.
Dan sadarlah bahwa perjalanan ini terkadang butuh peta dan catatan
sebagai petunjuk dan evaluasi jalan kita.
Yakinlah bahwa titik bukan akhir dari segalanya,
karena masih banyak kata yang harus diuntai
agar menjadi sebuah cerita kehidupan yang indah.
warna coretan kata bijak , motivasi , renungan
Senin, 25 April 2011
Doa Kupu-kupu
Tuhan,
terkadang kami suka lupa diri
terkadang kami suka lupa diri
tak jarang kami suka meninggikan hati.
Namun sebaris pinta kami
tulus dari dasar sanubari
ingatkan kami bila kami jadi belagu,
bahwa dulu kami hanya seekor ulat bulu,
hanya seekor pengganggu,
timbulkan gatal bagai kutu.
bahwa dulu kami hanya seekor ulat bulu,
hanya seekor pengganggu,
timbulkan gatal bagai kutu.
Tuhan,
Ingatkan kami saat kami sombong,
dulu kami hanya sebuah kepompong.
bagai pertapa yang terasing, hening, kosong,
terbentuk dalam masa bengong.
Ingatkan kami saat kami sombong,
dulu kami hanya sebuah kepompong.
bagai pertapa yang terasing, hening, kosong,
terbentuk dalam masa bengong.
Tuhan,
saat kami kini menjadi kupu-kupu
terbang dengan sayap bentukan-Mu
menabur serbuk, warnai dunia yang kelabu
Secantik dan setampan apa rupa kami,
sehebat dan sepentingnya diri kami,
ingatkan kami selalu,
bila kami hanya seekor ulat bulu.
saat kami kini menjadi kupu-kupu
terbang dengan sayap bentukan-Mu
menabur serbuk, warnai dunia yang kelabu
Secantik dan setampan apa rupa kami,
sehebat dan sepentingnya diri kami,
ingatkan kami selalu,
bila kami hanya seekor ulat bulu.
Minggu, 24 April 2011
Sepucuk Surat kepada Presiden
Dear Mr. President, come take a walk with me
(Take a walk with me)
Let's pretend we're just two people and you're not better than me
I'd like to ask you some questions if we can speak honestly
Selamat malam Bapak Presiden Pemimpin Bangsa,(Take a walk with me)
Let's pretend we're just two people and you're not better than me
I'd like to ask you some questions if we can speak honestly
Saya menulis surat ini saat mendengar dan membaca berita di berbagai media bahwa Bapak terkena penyakit stroke. Saya mengharapkan, semoga sakit Bapak tidak berkepanjangan yang dapat menghambat kinerja Bapak dalam memimpin bangsa ini.
Saya juga mengharapkan semoga juga surat ini tidak mengganggu tidur lelap Bapak, semoga selimut mewahmu selalu menghangatkanmu dari dinginnya malam, semoga alunan musik klasik dalam kamarmu tidak mengganggumu dari jeritan dan pekikan rakyatmu yang kelaparan.
Terlalu lancang rasanya apabila rakyat jelata seperti saya datang tengah malam, mengetuk pintu istanamu yang megah, mengganggu tidurmu dan hanya ingin berbincang, membicarakan kegelisahan ini. Dengan segala kerendahan hati, saya mencoba untuk mencurahkannya melalui selembar surat kotor ini.
What do you feel when you see all the homeless on the street?
Who do you pray for at night before you go to sleep?
What do you feel when you look in the mirror? Are you proud?
Who do you pray for at night before you go to sleep?
What do you feel when you look in the mirror? Are you proud?
Percayalah di balik tidur lelapmu Bapak, ada sebagian dari rakyatmu yang tidak bisa tidur. Sebagian dari kami terjaga karena tidak memiliki alas untuk sekedar merebahkan badan yang lelah karena seharian berpeluh di bawah terik matahari demi sesuap nasi.
Sebagian terlalu takut dan gelisah menghadapi hari esok, karena berbagai aksi teror dan kekerasan oleh beberapa oknum yang menganggap diri mereka lebih baik dibanding kalangan tertentu. Sebagian terlalu takut menghadapi segala kebijakan dan keputusan yang diambil di masa kekuasaanmu. Tidak berani menebak-nebak…
How do you sleep while the rest of us cry?
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye? And tell me why?
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye? And tell me why?
Tahukah Bapak Presiden, ‘kejutan-kejutan’ yang sudah kau berikan kemarin dan sebelumnya, sungguh menghancurkan segala harapan, menyayat hati, membungkam senyum-senyum kecil rakyatmu yang semestinya kau cintai dank au lindungi, melebarkan tangis duka anak-anak bangsa yang tak bergizi, melukai ibu pertiwi.
Entah kejutan-kejutan apalagi yang akan Bapak berikan kepada kami esok hari – apakah racun yang kau berikan untuk anak-anak dan bayi-bayi kami sehingga kurang gizi? Apakah harga pangan yang akan terus kau naikkan, mengimpor bahan pangan di tengah-tengah julukan negeri lumbung padi? Apakah BBM yang akan kau tiadakan, sementara kilang minyak bertebaran di berbagai pelosok negeri? Apakah ketidakadilan hukum yang kau pamerkan? Ataukah teror yang akan kau hidangkan untuk kami esok pagi? Atau… entah apalagi kado istimewa yang akan kau suguhkan untuk kami, tentunya sangat mengejutkan bukan?
Dear Mr.President, were you a lonely boy?
(Were you a lonely boy?)
Are you a lonely boy?
(Are you a lonely boy?)
(Were you a lonely boy?)
Are you a lonely boy?
(Are you a lonely boy?)
How can you say, no child is left behind?
We're not dumb and we're not blind
(We're not blind)
They're all sitting in your cells while you pave the road to hell
Bapak Presiden yang terhormat, mungkin musik indah pengantar tidurmu terlalu syahdu dan mendayu-dayu sehingga kau benar-benar tidak mendengar pekikan dan jeritan kami. Tapi, saya yakin bahwa Presiden kami bukanlah pemimpin yang tuli dan buta, apalagi tidak punya hati nurani. Kau tidak hidup sendirian di negara ini. Ada dua ratus tiga puluh juta rakyat yang tinggal bersama dengan Bapak di bumi pertiwi ini, dua ratus tiga puluh juta jiwa yang mencari hidup dan penghidupan di negeri yang tanahnya sudah kami injak puluhan tahun, yang udaranya kami hirup setiap hari, yang hasil buminya memberi makan mulut-mulut kami.We're not dumb and we're not blind
(We're not blind)
They're all sitting in your cells while you pave the road to hell
Dengan penuh kerendahan hati dan tanpa merngurangi rasa hormat, saya minta kepada Bapak, tolong perhatikan nasib kami. Masih banyak rakyat yang Bapak pimpin tidak bisa menikmati pendidikan, masih banyak rakyat yang kelaparan, masih banyak rakyat yang sakit-sakitan, masih banyak rakyat yang pengangguran, masih banyak rakyat yang hidup dalam kesusahan. Susah payah hanya sekedar untuk makan, sekedar untuk mendapat pendidikan, sekedar untuk mendapat fasilitas kesehatan, sekedar untuk mendapat air bersih, sekedar untuk mendapat bahan bakar murah, sekedar untuk mendapat tempat tinggal yang memadai.
What kind of father would take his own daughter's rights away?
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay?
I can only imagine what the first lady has to say
You've come a long way from whiskey and cocaine
Bapak, saya tak mengerti tentang hukum dan politik, pun saya tak ingin tahu banyak tentang keduanya. Saya warga negara biasa yang sudah cukup puas dengan kehidupan yang layak dan pekerjaan yang baik. Hukum dan politik bukan bidang kami, dan barangkali kami memang tak perlu memahaminya, karena seperti yang sering dibilang orang, hukum dan politik itu klise, bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan! Namun, kali ini, izinkan kami bersuara.And what kind of father might hate his own daughter if she were gay?
I can only imagine what the first lady has to say
You've come a long way from whiskey and cocaine
Prihatin tak lagi cukup, Bapak. Beragam janji dan instruksi tidak lagi mampu membungkam mulut kami, karena kami sudah kenyang dengan janji. Kami lelah menunggu tanpa daya. Kami letih menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.
How do you sleep while the rest of us cry?
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye?
Nyanyian dari bibirmu sudah cukup kami dengarkan, Bapak. Kini kami menanti sesuatu yang lain. Kami tak minta banyak, Bapak. Kami hanya ingin orang yang kami pilih mampu menyediakan keamanan bagi kami. Kami ingin bisa beribadah dengan damai. Kami ingin bisa melalui jalan-jalan kota dengan tenteram. Kami ingin menikmati film dan pergi ke tempat-tempat hiburan dengan leluasa. Kami ingin bebas dari rasa takut dan teror.How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye?
Kami ingin pajak yang kami bayarkan digunakan untuk sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan pembangunan negara, karena sekalipun kami hidup berkecukupan, jutaan penduduk Indonesia di lain pelosok masih belum menikmati kehidupan dan penghidupan yang layak. Sudah cukup kami merasa pedih melihat uang hasil jerih payah kami digunakan untuk plesiran anggota dewan yang terhormat yang notabene seringkali tidur, membolos bahkan mempertontonkan moral yang bejat saat sidang atas nama rakyat, sementara jutaan rakyat miskin mengais sampah dan makan nasi yang sudah basi setiap hari.
Kami ingin korupsi dan segala praktek tikus berdasi dihapuskan dari muka negeri ini. Kami jijik dengan tingkah laku para pengusa di gedung sirkus Senayan yang tampak alim dan berwibawa namun tak lebih dari seekor lintah penghisap darah dan serigala berbulu domba. Kami malu akan ‘prestasi’ yang diraih sebagai negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi.
Kami muak dengan kekerasan. Kami muak dengan aksi semena-mena. Kami muak melihat nama Tuhan digadaikan demi hawa nafsu segelintir orang tertentu. Kami sudah lelah mencaci dan menangis.
Let me tell you 'bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you 'bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you 'bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you 'bout hard work, hard work, hard work
You don't know nothin' 'bout hard work, hard work, hard work
How do you sleep at night?
How do you walk with your head held high?
Dear Mr. President, you'd never take a walk with me, would you?
Bapak Presiden, kami tak minta banyak, sungguh… Tolong dengarkan kami. Bergegaslah, lakukan sesuatu. Bertindaklah agar kami tahu orang yang kami pilih memang layak mengemban kepercayaan kami. Penderitaan tak butuh retorika juga citra, sebab kelaparan tak butuh janji saat kampanye.
Bapak Presiden, bergegaslah… jangan lagi menonton penderitaan rakyat lewat televisi. Terjun langsung dan lihat sendiri, tanpa harus membawa awak media dan para politisi.
Tertanda,
Rakyatmu yg Jelata
HAPPY EASTER
"Now if we be dead with Christ, we believe that we shall also live with Him:
Knowing that Christ being raised from the dead dieth no more; death hath no more dominion over Him.
For in that he died, he died unto sin once: but in that He liveth, He liveth unto God."
ROM. 6 : 8-10
Jumat, 22 April 2011
Have a Blessed Good Friday
Puji syukur dan terima kasih tak terhingga
ya Bapa, buat YESUS-Mu
yang juga pernah merasa Kau tinggalkan
yang juga pernah menangis disalib
karena merasa Kau abaikan,
sehingga menjadi perenungan dan teladan bagi kami
untuk memandang bahwa hidup tidak selalu berpihak kepada kami
untuk mengerti bahwa akan ada banyak onak dan duri
yang menghadang langkah kami.
Namun, kematian dan kebangkitanNya atas maut dan dosa
membuat kami beriman dan percaya
bahwa Engkau telah mempersiapkan jalan terbaik
atas setiap salib yang kami pikul.
Keagungan Kasih dalam Sengsara Jumat Agung
Tadi pagi saat ibadah di gereja mengenang sengsara Yesus, bapak pendeta membawakan renungan sambil para jemaat diminta untuk berdiri dan merentangkan kedua tangan seolah-olah sedang disalib. Hanya berlangsung sekitar tujuh menit, tapi rasanya kedua lengan ini sudah mulai merasa pegal-pegal dan tidak kuat untuk direntangkan berlama-lama. Banyak jemaat yang terlihat mulai menurunkan dan mengibaskan tangan mereka. Ya Tuhan, merentangkan kedua tangan selama tujuh menit saja rasanya sudah seperti itu, bagaimana dengan Yesus yang mengalami penyiksaan selama tiga jam lebih di Golgota? Belum lagi segala penghianatan, penolakan dan caci maki yang diterima oleh Yesus selama masa hidupNya. Mengingat sengsara dan penderitaan Yesus yang begitu hebatnya, air mata pun jatuh mengalir dengan deras.
Yesaya 53: 1-12
Isi nubuatan Yesaya 53 menggambarkan penderitaan yang dialami Yesus di sepanjang jalan salib. Yesaya menulis ratusan tahun sebelum Tuhan Yesus lahir, dan Yesaya mati ratusan tahun sebelum Yesus lahir, namun tulisannya bercerita hari kejadian penyaliban Yesus sangat tepat dengan kejadian nyatanya. Ini salah satu bukti bahwa Alkitab adalah Kitab Suci, Tuhan mengatur isi Alkitab, dan Dia tidak pernah salah memberi nubuat.
Mari kita lihat perjalanan salib Yesus Kristus sejak meninggalkan Getsemani, dari pengadilan ke Golgota – kita akan lihat dengan membandingkan nubuat Yesaya dengan Kejadian jalan Salib Yesus Kristus yang sungguh dialami Yesus ratusan tahun setelah nubuat itu.
1. Yes 53:3 Ia dihina dan dihindari orang.
Dihindari orang adalah hal pertama yang dicatat kitab Lukas setelah Yesus meninggalkan Getsemani. Saat Tuhan Yesus ditangkap, semua murid-murid dan pengikutNya lari kocar-kacir meninggalkan Tuhan Yesus. Tidak ada yang berani mendekat dan terlibat, takut ikut ditangkap. Ia dihindari orang. Bahkan Petrus yang pernah mengaku bahwa ia berani mati bagi Yesus pun, tidak berani mendekat, Hatinya ingin dekat, tapi ia takut. Jadi ia diam-diam, menyelinap membuntuti Tuhan Yesus. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Ia dihianati sahabat atau murid terdekatNya. Petrus mengkhinati Yesus dengan menyangkal Dia di hadapan para wanita. Padahal wanita, dalam budaya Yahudi saat itu dipandang lebih rendah dibanding para pria. Mereka tidak punya daya, tapi terhadap wanita seperti itu Petrus takut untuk mengakui Yesus, ia mengatakan, “saya tidak kenal orang itu”.. (Lukas 22:54-62). Bayangkan jika misalnya teman akrabmu, yang setiap hari bermain denganmu, mengobrol denganmu, tiba-tiba berkata di depan orang yang baru kalian kenal, ”Maaf, aku tidak kenal orang ini” – dengan ekspresi serius, bukan bercanda. Pasti kita sakit hati. Itu yang dialami Yesus, disakiti hatiNya oleh para murid dan pengikutNya karena mereka semua menghindari Dia. Tapi Yesus tidak mendendam.
2. Yes 53:3 Ia dihina dan hindari orang.
Dihina orang adalah hal kedua yang dicatat Lukas tentang perjalanan Tuhan Yesus menuju Golgota, mulai Lukas 22:63 – dikatakan “Orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia sambil memukuli dan menyiksa Dia.”
Muka Yesus ditutupi, lalu mereka memukuli Dia, tanpa Dia bisa melihat siapa yang memukulNya, dan mereka mempermainkan Yesus dengan mengajak main tebak-tebakan, siapa yang memukuli Dia? Ini penghinaan yang luar biasa bagi seorang Raja di atas segala raja.
3. Bukan cuma itu, Ia juga dipukul dengan cambuk. Cambuk romawi bukan sekedar satu tali rotan yang lentur dan keras, tapi merupakan tali yang bercabang sampai 5 atau 6 cabang, yang diujung masing-masing ada benda tajam, seperti mata kail yang terbuat dari tulang-tulang hewan yang tajam.
Tuhan Yesus sudah mengalami penyiksaan itu sejak ia dalam pengadilan, ia dicambuk dengan 5 atau 6 mata kail yang sekaligus menghujam tubuhnya, dan ketika ditarik, punggungnya bukan cuma berdarah, tapi daging dan kulitnya ikut tertarik bersama ujung kail itu. Ini terjadi berulangkali!
· Ketika selesai dicambuk, tubuhnya robek-robek penuh luka, langsung dikenakan jubah ungu untuk mengejek Dia. Jubah itu yang terus dipakai sepanjang perjalanan menuju Golgota. Luka yang masih basah, mengering dan lengket mengeras di kain ungu itu. Ketika sampai di Golgota, dengan paksa para prajurit menarik jubah itu, dan koreng yang melekat ikut tertarik, luka-luka lama terbuka lagi, jauh lebih sakit dari sebelumnya.
· Paku besar menghujam tangan dan kakiNya,
· Orang-orang mengejek Dia “Hai engkau pembuat mujizat, tolonglah diriMu sendiri”.
Ia dihina, dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Kondisi Yesus yang berlumur darah, membuat orang menutup muka, tidak ada yang mau memandang rupanya – karena begitu buruk akibat siksaan.
Sejak di pengadilan, wajah Yesus sudah hancur, catatan sejarah menunjukkan bahwa tulang pipinya retak, tulang hidungnya patah, matanya bengkak dipukuli, dan tubuh Yesus pun sudah hancur kena cambuk. Setelah diadili bolak-balik antara Pilatus dan Herodes, akhirnya di tangan Pilatus, keputusan diambil, Tuhan Yesus diputuskan disalib, bukan karena ditemukan kesalahan pada diriNya, tapi Ia diberikan Pilatus untuk menghindari pemberontakan orang-orang Yahudi. Yesus ditukar dengan penjahat-pembunuh bernama Barabas. Pada jaman itu, dalam hukum Romawi, ada aturan tukar terdakwa khusus bagi terdakwa bangsa Yahudi. Jadi Yesus divonis mati, sebagai menggantikan Barabas yang sudah divonis mati. Bangsa Yahudi yang sudah gelap mata, lebih memilih Barabas orang yang pernah membunuh, mencabut nyawa, untuk dibebaskan, dan menuntut Yesus, yang pernah membangkitkan orang mati, untuk dihukum mati. DOSA MENGGELAPKAN MATA MANUSIA, DAN MEMBALIKKAN KEADAAN. YANG BERSALAH DIBEBASKAN DAN YANG BENAR DIHUKUM MATI.
4. Yes 53:7 Setelah keputusan diambil Pilatus, Yesus digiring, memikul salib menuju Golgota. Ia menuju Golgota tanpa protes, tanpa berkata apa-apa: “Dia tidak membuka mulutNya, seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulutnya.” ‘Membuka mulut’- sesuai bahasa Ibrani yang dipakai kitab Yesaya, punya arti: tanpa protes, tanpa mengeluh. (Penjahat asli, biasanya berdalih pada saat ketangkap basah, bahkan saat dijatuhi hukuman pasti – masih tetap protes, hal pertama yang dilakukannya adalah “buka mulut : SILAT KATA, ALIAS BERDALIH” untuk menghindari hukuman. Tapi Tuhan Yesus tidak buka mulut sama sekali. Ia tidak protes, tepat seperti yang dinubuatkan nabi Yesaya. Manusia biasa tidak akan tahan diperlakukan demikian, termasuk penjahat yang digiring sampai ke salib bersamaan dengan Tuhan Yesus, mulut mereka penuh sumpah serapah, kutukan, protes. Mereka tidak mau dihukum mati, sekalipun mereka berbuat banyak kejahatan, mereka tidak bisa terima kenyataan itu. Di tengah brutalnya penyiksaan, penjahat-penjahat ini tidak bisa mengendalikan emosi mereka,
Tuhan Yesus tidak membuka mulutNya untuk protes, tak ada kata-kata kotor keluar dari mulutNya, karena tidak ada kekotoran dalam hatiNya. Ia membuka mulutnya, tapi dengan 7 kalimat yang positif, penuh kasih, pengampunan, dan perhatian. Keluh sakit yang diucapkannya, juga bukan merupakan protes atau pemberontakan kepada para penyalibNya. Ia mengeluh langsung kepada Bapa di sorga, keluhan tanpa protes dan tanpa kutukan.
5. Hal lain yang dicatat Yesaya, yang benar-benar dialami Yesus, Yes 53:5 : Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Di atas salib, perut Yesus ditikam hingga menembus lambungNya.
Lambung yang tertikam, kepala yang berdarah oleh mahkota duri tajam yang bukan cuma diletakkan begitu saja, tapi ditancapkan keras di kepala, tubuh yang robek-robek akibat cambuk yang menghujam dan menarik daging Yesus, membuat orang-orang di sana saat itu berpikir, “sungguh orang ini sedang dimurkai Allah”. Tetapi sesungguhnya, ‘penyakit’ kitalah yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, semestinya yang berada di sana adalah kita yang berdosa.
Yesus mati menggantikan hukuman dosa kita semua. Tuhan tahu, tidak ada manusia yang sanggup membayar dosa manusia sendiri yang terlalu besar dan banyak. Manusia tidak bisa menghapus dosanya sendiri, itulah sebabnya dalam kekristenan perbuatan baik tidak membawa manusia masuk ke sorga, sorga adalah tempat kudus, tidak boleh ada dosa di sorga, itu sebabnya sekalipun manusia sudah berbuat ratusan juta kebaikan, tapi jika ada satu dosa saja – tidak bisa masuk ke sorga. Untuk alasan ini, Tuhan Yesus, sekalipun sanggup dan berkuasa untuk melepaskan diri dari kayu salib, Ia tidak memikirkan diri sendiri atau menjaga gengsi diri sendiri. Ia memilih mati bagi manusia.
Inilah alasan Yesus mau mati bagi manusia karena KASIH. Alasan kedua kenapa Yesus mau mati bagi manusia adalah KARENA TANPA KEMATIAN TIDAK AKAN PERNAH ADA KEBANGKITAN. JIKA YESUS tidak pernah mengalami kematian, Ia tidak akan bangkit dan membuktikan kemenangan atas kuasa maut. Yesus memutuskan untuk mati agar ada kemenangan, mematahkan kuasa iblis.
Semua yang terjadi pada Yesus di Golgota, seluruh pengorbanan dan lukaNya membuktikan Kasih Tuhan yang besar pada manusia. Dan Tuhan mau kita sebagai manusia yang telah ditebus menghargai luka-luka dan pengorbanan yang sudah Ia perbuat bagi kita.
SAKIT DAN LUKA yang Tuhan Yesus rasakan jauh lebih besar dan dalam dari sakit dan luka kita. Padahal semestinya kitalah yang menanggungnya. Karena itu, jangan lagi sengaja dan membiarkan diri terus menyakiti hati Tuhan. Mari kita belajar menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.
Jika kita sadar kita sudah dibayar mahal dengan darah dan penderitaanNya, semestinya kita berhenti terus menerus melukai hati Yesus. JIKA ENGKAU MENGERTI APA ARTINYA DITUSUK, DICAMBUK HINGGA ROBEK, DIPUKUL HINGGA TIDAK BERBENTUK, DAN ITU SEMUA DEMI DIRIMU, ENGKAU TIDAK AKAN MEREMEHKAN PENGORBANAN YESUS DENGAN BERBUAT DOSA SEDIKIT-SEDIKIT. TAPI ENGKAU AKAN BERJUANG SEBISA MUNGKIN MELAKUKAN YANG TERBAIK. BERHATI-HATI DENGAN HIDUPMU, SUPAYA YESUS TIDAK DILUKAI KEDUA KALINYA. Itu baru pertobatan sejati.
Pertobatan sejati bukan sebatas menangis mengakui “aku sudah berbuat dosa ini dan itu” Pertobatan sejati dimulai dengan pengakuan dosa dan dilanjutkan dengan membiarkan/membuka hati menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ada orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai juruselamat tapi tidak mengijinkan Dia jadi Tuhan atas hidupnya. Maunya Yesus menebus dosanya dan menyelamatkan hidupnya hingga tidak masuk neraka, tapi tidak mengijinkan Yesus jadi Tuhan yang mengatur hidupnya, tidak mengijinkan Yesus mengatur tingkah lakunya, tidak mau melakukan yang menyenangkan hati Tuhan tetap seenaknya dalam perkataan dan perbuatannya.
Ketahuilah, air mata tidak menjamin bahwa seseorang bertobat sejati. Tapi pertobatan sejati pasti diiringi Air mata pertobatan dan terima Yesus sebagati Tuhan dan juruselamat disertai dengan usaha/perjuangan untuk tidak mengulangi dosa yang sama, perjuangan menghindari berbagai dosa apapun versinya – alias TAAT, menghargai pengorbanan Tuhan Yesus.
Peristiwa dari pengadilan ke Goltota tidak berhenti sampai kepada kematian saja. Setelah semua itu, Yesus bangkit mengalahkan kematian (maut). Yesus adalah Tuhan yang menang atas kuasa maut, karena itu kemenangan juga menjadi milik kita. Oleh karena itu kita patut hidup selayaknya orang yang menang, tidak lagi membiarkan hidup kita diperbudak oleh dosa.
Rabu, 13 April 2011
Menghormati dan Memuliakan TAMU
Teman-teman warna-warni, selamat pagi/siang/sore/malam dimanapun Anda berada. Selamat beraktivitas…
Nah lhoo...
Coretan Selengkapnya...
Kali ini saya pengen share sedikit cerita bagaimana menghormati tamu, dimana masih banyak pandangan yang menganggap bahwa “tamu adalah raja”.
Berikut adalah pengalaman teman saya yang menjamu tamunya, sebut saja namanya Lisa. (daripada dikasih nama ‘Bunga’, terkesan kayak nama samaran korban perkosaan atau gadis malam deh. Hehehe…)
Pada suatu malam kira-kira jam setengah 9, ada orang yang mengetuk pintu datang bertamu ke rumah Lisa. Mereka adalah seorang ibu dengan dua anaknya yang masih sangat kecil – kira-kira berumur lima tahun dan tujuh tahun, berpakaian compang-camping dan muka sangat lusuh. Dengan memelas si ibu tadi meminta sesuatu untuk mengganjal perut kedua anaknya yang kelaparan seharian belum makan.
Lhadalah... jam setengah 9 malam masih ada aja orang yang meminta-minta. Aneh banget khan??
Lisa dan ibunya sebenarnya waspada terhadap tamu itu, mengingat zaman sekarang marak terjadi kasus penipuan dan pencurian dengan motif meminta-minta atau pura-pura menanyakan alamat. Namun dengan sopan, ibunya Lisa menyuruh orang itu bersama anaknya masuk ke dalam rumah dan menyediakan makanan ala kadarnya; nasi putih dengan kerupuk, soalnya sudah malam dan lauk yang tersisa cuma itu.
Ketiga tamu itu makan dengan lahap dan cepat, lalu setelah menghabiskan makanan tadi si ibu dan anaknya minta pamit pulang. Lisa dan ibunya masih belum berpikiran apa-apa tentang tamunya barusan. Dan karena kuatir dengan tamunya, Lisa lari ke luar rumah menyusul perginya si ibu tadi.
Ternyata…
jreng jreng jreeeng...!!
Lho kok ga ada??
Padahal belum semenit mereka pergi meninggalkan rumah... Jalanan seputar situ juga sepi banget, di gangnya tak satupun pintu rumah yang terbuka. Lisa menyusuri jalanan dan kebetulan di jalan ia bertemu tetangganya yang lagi nongkrong. Ia bertanya apakah mereka melihat ibu dengan dua anak yang lewat jalan tersebut barusan. Jawaban mereka TIDAK!!
Ga ada seorang pun yang lewat di situ barusan…
Nah lhoo...
Jadi ibu dan kedua anak tadi siapa?? Kok bisa menghilang tanpa jejak…?? Masa’ bisa terbang... Ga mungkin banget khan…??!
Tapi ini adalah kejadian nyata. Dan kemudian keesokan harinya, keluarga Lisa mendapat rezeki yang berlimpah. Ayahnya Lisa mendapatkan promosi kenaikan jabatan di kantornya.
Nah, teman-teman warna-warni bisa menebak sendiri khan, kira-kira siapa ibu dan kedua anak tadi sebenarnya??
Bisa jadi mereka adalah malaikat yang turun ke bumi dan menyamar, dan menguji kebaikan keluarga Lisa.
Saya juga pernah mengalami kejadian yang mirip. Pernah suatu ketika saya sedang pergi berbelanja dengan kakak saya untuk membeli sebuah baju. Cari sana cari sini, tidak menemukan yang sesuai. Kakak saya masih bersikeras untuk mencari lebih lama lagi hingga menemukan yang sesuai dengan selera. Namun, ada suatu bisikan di telinga saya yang mengatakan bahwa kami harus segera pulang mengingat hari juga sudah gelap dan tampaknya akan turun hujan. Karena terburu-buru pulang, akhirnya kami lupa untuk sekalian mampir beli makan malam. Terpaksa deh menunggu tukang jualan yang lewat di depan rumah aja sementara saat itu sudah jam 8 kurang.
Beberapa saat kemudian, lewatlah penjual putu bambu. Kami membeli hanya lima ribu rupiah. Penjualnya bilang, “Terima kasih banyak Ibu. Putu saya belum laku sedari sore, baru Ibu yang beli. Anak saya sedang sakit di rumah dan saya tidak punya uang untuk membeli obat demam…”
Mendengar hal itu, kita pun menjadi iba. Akhirnya kita beli sepuluh ribu rupiah dengan membayar dua puluh ribu rupiah, uang kembaliannya buat bapak penjualnya.
Bapak penjual putu itu sangat senang dan berkali-kali menunduk sambil mengucapkan terima kasih, dan ia pun pulang.
Esok harinya, saya mendapatkan bonus yang lumayan di kantor, demikian juga kakak saya.
Yah... suara bisikan tadi mengingatkan saya untuk menolong dan berbagi dengan sesama, yang dalam hal ini adalah bapak penjual putu. |
Ya, menghormati tamu itu penting. Bukan karena kita pamrih akan mengharapkan imbalan apa-apa namun tak lepas juga karena dapat membawa nama baik keluarga.
Nah, ada satu cerita lagi yang merupakan kisah nyata juga.
Suatu hari, sebuah keluarga yang kaya kedatangan tamu. Sama seperti cerita sebelumnya, dan kalau dilihat dari penampilan tamunya sudah jelas sekali kalau tamunya ini meminta makanan juga. Tamunya memelas meminta bantuan si empunya rumah. Tapi keluarga ini malah tidak mau membukakan PINTU. Mereka pura-pura diam seakan-akan tidak ada orang di rumah.
Tapi, sebenarnya yang dilakukan oleh keluarga kaya ini sama sekali TIDAK SALAH...
KENAPA?
Biarkan gambar ini yang menjelaskannya.
Saya berharap teman-teman warna-warni mengerti yang saya maksud.
Meskipun tamu itu musuh lama...
Kita juga tidak boleh membeda bedakan status tamu. Misalnya, tamu orang kaya dapat minuman es jus buah, sedangkan tamu orang miskin cuma dapat air putih.
Itu mah namanya diskripsi, ehh diskriminasi!
Walaupun tamu tersebut adalah MANTAN pasangan kita!!
Hwahahaha…
Dari cerita di atas, dapat kita ambil sebuah pesan:
Menabur berbuat baik akan menuai hasil yang baik pula. Kita tidak pernah tau siapa yang kita tolong, dan Tuhan adalah Maha Melihat. Ia akan membalaskan kebaikan kita dengan cara-cara yang sama sekali tak terduga.
Salam warna-warni…
warna coretan lucu , renungan , sehari-hari , sekitar kita
Kamis, 31 Maret 2011
Surat Kepada TUHAN
Hati yang gamang di Planet Bumi, 31 Maret 2011
Kepada Yang Maha Mulia, Yang Maha Kasih, dan Yang Maha Tahu
Tuhan Pencipta Semesta dan Pemilik kehidupan
di Sorga
tempat segala ruang dan waktu yang terbatas aku pahami.
Dengan hormat,
Aku masih menganggapMu ada dan selalu menganggap demikian, makanya aku berkirim surat kepadaMu, Tuhanku.
Bersamaan dengan ini aku mohon ampun Tuhan atas kelancangan dan keangkuhanku merengkuh waktu untuk meraih perhatianMu. Ada sebuah tanda tanya besar yang sangat menyita kesabaranku ya Tuhan dalam melakoni drama kehidupan, hingga terbitlah surat ini kepadaMu.
Bersamaan dengan ini aku mohon ampun Tuhan atas kelancangan dan keangkuhanku merengkuh waktu untuk meraih perhatianMu. Ada sebuah tanda tanya besar yang sangat menyita kesabaranku ya Tuhan dalam melakoni drama kehidupan, hingga terbitlah surat ini kepadaMu.
Entah bila surat ini akan sampai di tanganMu – apakah setelah noktah terakhir dari surat ini, atau Engkau telah membacanya bahkan sebelum huruf awal dari isi surat ini kutuangkan. Ku tak peduli kapan, yang aku tahu hanyalah bahwa sejak aku kecil Engkau adalah Maha Tahu. Bahkan jauh sebelum dunia dijadikan pun, Engkau telah mengetahui apa yang telah, yang sedang, dan yang akan terjadi dalam dunia ini.
Kurangkai kegelisahan dan cerita hidup yang terangkum dalam memoriku yang mungkin tidak bagus untuk suatu ingatan yang tajam dan brilyan, hanya sebagai arsip pribadi, tapi bukan pula sekedar cerita pengisi waktu senggang.
Sebenarnya aku malu Tuhan, aku malu dengan terhadap diriku sendiri dan aku malu terhadap Tuhan yang memiliki hidupku. Aku takut Kau akan sangat sedih melihatku. Aku merasa terlalu banyak mengecewakanMu akhir-akhir ini. Aku telah mengerti dan memahami apa itu artinya kebahagiaan dan keselamatan di dalam Engkau, tapi masih saja aku bermuram dan merasa galau. Aku juga telah memahami sepenuhnya Engkau yang memegang hidup dan masa depan kami, tapi Aku terkadang-kadang aku masih bertanya-tanya akan janji dan penyertaanMu.
Mengapa Kau ijinkan hal-hal yang tidak adil dan tidak benar terjadi di dunia ini?
Mengapa ada perang, bencana, penindasan, tipu muslihat, sakit-penyakit, kelaparan, penderitaan dan airmata dimana-mana?
Mengapa ada orang-orang yang begelimang harta sementara yang lainnya harus mengais bak sampah untuk memuaskan lapar dan dahaga?
Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika ditampar pipi yang kiri?
Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika ditampar pipi yang kiri?
Mengapa aku harus mencintai musuhku dan berdoa bagi mereka yang menganiaya aku?
Mengapa sepertinya aku harus selalu mengalah walau dirugikan dan diperlakukan tidak adil?
Mengapa aku harus bersabar atas banyak hal yang tidak menyenangkan di dunia ini?
Mengapa aku tidak boleh bersungut-sungut, tapi justru bersyukur atas semua keadaan?
Masih panjang daftar pertanyaan ‘mengapa’ yang aku punya Tuhan, namun aku yakin Engkau paling tahu akan segalanya. Tolong ya Tuhan, jawablah kiranya agar aku mengerti, karena aku merasa sangat lelah bertanya-tanya dan menanggung semua ini...
Masih panjang daftar pertanyaan ‘mengapa’ yang aku punya Tuhan, namun aku yakin Engkau paling tahu akan segalanya. Tolong ya Tuhan, jawablah kiranya agar aku mengerti, karena aku merasa sangat lelah bertanya-tanya dan menanggung semua ini...
Salam,
AnakMu yang gamang.
Jumat, 04 Maret 2011
Perfect Day, Perfect Life
: Untuk Para Sahabat
Pertama-tama, marilah kita mengheningkan cipta… Eh, salah! Maksud aku pertama-tama marilah dengerin sebuah lagu dari Pink, judulnya Perfect. Pembukaan video klip sih rada 17 tahun ke atas gitu, tapi abaikan aja deh karena toh pesan yang terkandung dari lagu ini bukan soal adegan begituan. Hehehehe…
Lagu ini bercerita tentang seseorang yang terus-menerus merasa hidupnya bermasalah; merasa bahwa hidupnya hancur dan tidak berharga, sering tidak dianggap oleh sekitarnya, diperlakukan dengan sangat tidak adil dan dikucilkan. Tapi taukah kamu, sebenarnya dengan berpikiran dan merasa secara aktif terus-menerus bahwa hidup kamu dalam masalah justru akan membuat dirimu sendiri berada dalam masalah.
Heii… Bangunlah, hentikan segala prasangka, pikiran, dan perasaan-perasaan buruk itu!
Barangkali ada beberapa orang yang mengutuk hidupnya “salah” dan membuatnya terus-menerus “menderita”—tetapi percayalah, hidup adalah tentang apa yang kita sangkakan kepadanya. Jika kita terus menyangka bahwa hidup kita begitu menderita, kita akan menderita. Jika kita memandang bahwa hidup begitu indah dan penuh kebahagiaan, kita pun akan berbahagia.
Made a wrong turn, once or twice
Dug my way out, blood and fire
Bad decisions, that's alright
Welcome to my silly life
Mistreated, misplaced, misunderstood
Miss 'No way, it's all good', it didn't slow me down
Mistaken, always second guessing, underestimated
Look, I'm still around
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel like you're nothing:
You're perfect to me!
Dug my way out, blood and fire
Bad decisions, that's alright
Welcome to my silly life
Mistreated, misplaced, misunderstood
Miss 'No way, it's all good', it didn't slow me down
Mistaken, always second guessing, underestimated
Look, I'm still around
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel like you're nothing:
You're perfect to me!
Tiap orang pasti punya masalah, tanpa terkecuali! Orang-orang di sekeliling kita – terlepas dari bagaimana pun mereka menampilkan diri mereka - kalau kita telusuri secara serius dan perhatikan bagaimana mereka menjalani hidup mereka masing-masing, kita akan ketahui betapa banyak yang merasa tidak beruntung, penuh masalah, tidak bahagia, dan seterusnya. Di kantor-kantor, kita melihat orang-orang yang setiap hari mengeluh soal pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk dengan upah kerja yang tidak mencukupi. Di kafe-kafe, kita meilhat orang-orang yang murung atau mereka yang tertawa sambil menipu diri sendiri. Di mal-mal, orang-orang berjalan menatap barang-barang di etalase dengan pikiran yang kosong; apa yang akan dilakukan, mau kemana pergi, apa yang diinginkan, bagaimana caranya mendefinisikan kebahagiaan, mereka tidak tahu. Boleh jadi kita iri pada banyak hal yang mereka miliki – kekayaan materi, properti, dsb - tetapi kalau benar-benar ditelusuri rahasia-rahasia hidupnya bisa jadi mereka juga tidak berbahagia dengan hidup yang mereka miliki. Ya, seperti kita juga tidak pernah mengetahuinya.
Pause.
Jadi, adakah seseorang yang tak punya masalah dalam hidupnya? Rasanya tidak. Adakan seseorang yang sama sekali bersih dari najis dan dosa, di masa lalu atau masa kini? Rasanya tidak. Adakah seseorang yang selalu beruntung dan terus-menerus berbahagia? Tentu saja tidak!
Setiap orang - termasuk kita, pasti pernah melakukan kesalahan; maka hidup adalah tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kita semua pernah membuat keputusan yang salah – sekali, dua kali bahkan lebih banyak lagi; maka hidup adalah soal berhati-hati dan berjalan dengan penuh waspada. Bukankah setiap orang pernah bersedih dan menangis? Itulah cara hidup memperkenalkan makna tawa dan kebahagiaan. Ah, ya, seperti juga kita ketahui bersama, hidup adalah serangkaian peristiwa sedih dan bahagia, tangis dan tawa, pertemuan dan perpisahan yang terangkum dalam episode dan ceita-cerita… Lalu entah bagaimana cerita-cerita itu merangkai diri mereka satu sama lain, berjalin membentuk sebuah konfigurasi harmonis yang menampilkan diri kita: pikiran-pikiran, pengetahuan-pengetahuan, perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman…
Kalau begitu, bukankah hidup adalah soal bagaimana kita memaknainya? Kita tahu bahwa hidup tidak hanya didirikan dengan kaki kesedihan, ada kaki yang lain bernama kebahagiaan, lalu mengapa kita rela menjalani hidup hanya dengan satu kaki? Mengapa kita hanya berfokus pada kesedihan-kesedihan dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat? Mengapa kita rela membuat diri kita sendiri berjalan terseok dan terpincang-pincang? Mengapa kaki yang lain tidak pernah digunakan? Mengapa kita hanya bertumpu pada hal-hal yang sesungguhnya hanya akan membuat kita terus-menerus menderita, menderita, semakin menderita, dan semakin menderita…
You're so mean, when you talk about yourself, you were wrong
Change the voices in your head, make them like you instead
so complicated look happy you'll make it!
Filled with so much hatred... such a tired game
it’s enough! I've done all I can think of
Chased down all my demons, I've seen you do the same
Oh, pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel like you're nothing:
You're perfect to me
Change the voices in your head, make them like you instead
so complicated look happy you'll make it!
Filled with so much hatred... such a tired game
it’s enough! I've done all I can think of
Chased down all my demons, I've seen you do the same
Oh, pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel like you're nothing:
You're perfect to me
Ya, ya, memang benar, pertama-tama kita harus menata diri sebelum berjalan dengan riang… Kita harus membenahi yang berantakan dan terserak sisa kekalahan dan kesalahan yang kita alami dan lakukan. Benar, aku setuju itu. Tetapi mau sampai kapan? Dengarkan ini, sebagian kecil kenangan buruk memang harus kita simpan sebagai pelajaran, tetapi percayalah: sebagian besar yang lain harus kita tinggalkan dan lupakan! Bergeraklah ke depan, teruslah berjalan, jangan berkubang dalam lumpur penyesalan dan keragu-raguan… Kadang-kadang yang paling kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan adalah melupakan kesedihan dan kesalahan-kesalahan di masa lalu.
Percayalah kau begitu berharga, maka ketika kau mengira dirimu tak berguna: enyahkan suara itu dari kepalamu! Hidup begitu melelahkan jika kau hanya mengisinya dengan rutuk dan kebencian, entah pada dirimu sendiri atau orang lain. Segeralah bergerak sebelum semuanya terlambat! Soal resiko, tak ada satupun di dunia ini yang tak memiliki resiko, besar atau kecil. Yang harus kita lakukan adalah menabung keberanian dan mengumpulkan kekuatan untuk menyelesaikan resiko-resiko.
Ya, ya, aku tahu, hidup memang tidak mudah… tetapi semuanya akan jauh lebih sulit jika kau terus-menerus menganggapnya tidak mudah, bukan? Selesaikan. Ambillah keputusan. Pertimbangan-pertimbangan memang perlu, tetapi hanya mempertimbangkan saja tidak akan membuatmu menyelesaikan semua masalah: hanya menyebut-nyebut dan mengingat-ingat nama obat pusing tak akan menyembuhkan sakit kepala!
The whole world's scared so I swallow the fear
The only thing I should be drinking is an ice cold beer
So cool in line, and we try, try, try,
but we try too hard and it's a waste of my time
Done looking for the critics, cause they're everywhere
They don’t like my jeans, they don't get my hair
Exchange ourselves, and we do it all the time
Why do we do that? Why do I do that?
Why do I do that..?
The only thing I should be drinking is an ice cold beer
So cool in line, and we try, try, try,
but we try too hard and it's a waste of my time
Done looking for the critics, cause they're everywhere
They don’t like my jeans, they don't get my hair
Exchange ourselves, and we do it all the time
Why do we do that? Why do I do that?
Why do I do that..?
...Apakah kau masih memotret?
Aku ingin kau datang ke sebuah terminal kota dan mulai memotret sebuah gambar: Di sana, seorang ibu penjual gado-gado keliling terus tersenyum pada pelanggan yang ditemuinya sebab baginya hidup akan sama sulitnya jika ia menjadi murung dan pemarah. Baginya, senyumlah yang bisa meringankan semuanya: beban hidup seketika menjelma burung dengan sayap terbuka—terbang menyongsong cakrawala. Aku ingin kau datang juga menyusuri sepanjang emperan pertokoan di salah satu sudut kota lalu memotret seorang lelaki buta dituntun anak perempuannya dan setiap hari bernyanyi dangdut dengan riang gembira. Ia tak menyanyikan lagu sedih. Sebab baginya, lagu-lagu sedih hanya akan membuatnya terus-menerus merasa gelap. Tangkaplah gambar ketika ia berjoget dengan senyum yang lebar, tangkaplah gambar ketika anak perempuannya berkeliling sambil berjoget menyodorkan gelas air mineral kosong pada para calon dermawan.
Lalu, bagaimanakan hidup yang sempurna? Barangkali kisah ini bisa membantu menjelaskannya.
Seorang guru pernah ditanya, apa itu kesempurnaan? Barangkali, seperti orang kebanyakan, kita akan menyangka bahwa kesempurnaan adalah segala hal yang agung, mulia, mewah, indah, membahagiakan, dan seterusnya tentang segala hal yang baik. Benarkah kesempurnaan adalah tentang segala hal yang baik? “Tidak”, kata guru tersebut. “Kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih… Kesempurnaan adalah konfigurasi apik dari berbagai hal yang berlawanan.”
Si penanya mengerutkan dahinya, mengangkat sebelah alisnya, “Jika kesempurnaan bukan tentang kebaikan, mengapa kita menyebut Tuhan Maha Sempurna? Apakah selain Maha Baik artinya Tuhan juga Maha Tidak Baik?”
Sang guru terkekeh. “Seharusnya memang begitu,” katanya.
Si penanya kembali merasa heran, amarah hampir menguasai hatinya. Batapa lancang sang guru ini pada Tuhan, pikirnya. “Maksud Guru?” ia akhirnya tak bisa membendung pertanyaan itu.
“Coba kau pikir,” kata sang guru, “Adakah yang lebih baik dari kebaikan Tuhan?”
Si penanya menggelengkan kepala.
Guru terkekeh. “Lalu, kalau di dunia ini ada orang yang paling jahat dan membuat semua orang takut, apakah kamu pikir Tuhan tidak bisa mengalahkan kejahatannya—dan membuat si penjahat itu begitu kecil?”
Si penanya terdiam.
“Tuhan melampaui segalanya, sifat-sifat baik maupun sifat-sifat yang kita anggap buruk. Itulah sebabnya mengapa pada satu nama Dia di sebut Maha Kasih, tetapi di nama lain ia disebut Maha Pemarah dengan kemurkaan yang keras. Dia melampaui semua nilai maupun sifat, itulah sebabnya mengapa Dia Maha Sempurna. Kalau manusia selalu dan terus-menerus berbuat salah, Tuhan selalu dan terus-menerus menjadi pemaaf yang penuh kasih. Itulah kesempurnaan.”
Si penanya mengangguk, “Lalu bagaimana untuk memperoleh kesempurnaan, Guru?”
“Kau harus pernah berbuat salah salah untuk menemukan hal-hal baik… Kita tidak bisa membedakan mana yang baik dari yang buruk tanpa mengetahui keduanya. Itulah sebabnya Tuhan mempersilakan kita bersalah, agar selanjutnya kita terus berjalan dengan kebaikan-kebaikan…”
Yeah, oh, oh baby, pretty baby..!
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel
Like you're nothing, you're perfect to me
You're perfect, you're perfect!
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty please, if you ever feel like you're nothing:
you are perfect to me....
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty, pretty please, if you ever, ever feel
Like you're nothing, you're perfect to me
You're perfect, you're perfect!
Pretty, pretty please, don't you ever, ever feel
Like you're less than, less than perfect
Pretty please, if you ever feel like you're nothing:
you are perfect to me....
Terakhir… Sesungguhnya tulisan kali ini bukan tulisan yang baik, sebab aku hanya memanggil segala hal yang sesungguhnya sudah ada dalam dirimu. Tak ada hal baru yang aku sampaikan. Tentang strukturnya, juga bahasa yang kugunakan, sejujurnya aku mengabaikan semua teori dalam menulis. Aku hanya menulis seperti bagaimana pikiran kita bekerja, bagaimana perasaan kita bekerja, dan itulah cara yang kupilih untuk menyampaikan semua ini kepadamu.
Sekarang bernyanyilah: dalah hatimu, dalam pikiranmu. Lalu setelah nyanyian itu selesai, pejamkanlah matamu. Hadirkanlah wajah orang-orang yang kaucintai dan mencintaimu dalam ingatan. Tariklah napas panjang… lalu tahan lima sampai sepuluh hitungan. Kumpulkan semua perasaan dan pikiran-pikiran buruk, rangkum semua kenangan dan masa lalu yang buruk… lalu hembuskan!
…sekarang, lihatlah mereka menjelma burung dengan sayap yang terbuka, terbang membelah angin menyongsong cakrawala: Di sanalah ia akan hilang… berubah cahaya!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








