Senin, 18 Juni 2012

My Beloved Puppy Disappears

Duuuhh... pas banget posting sebelumnya tentang film Hachiko yang mengharu biru, tulisan ini aku buat saat anjing kesayangan aku, Aky baru menghilang dalam 2 hari ini.
Barky Subarkibong biasa dipanggil Aky ini mulai aku pelihara sejak 26 Februari lalu. Buntutnya yang ga terlalu panjang dengan bulu yang hitam legam mengkilap dan bola mata yang bulat hitam membuat aku jatuh cinta pertama kali melihatnya.
Aky doyan banget minum susu, makan sosis, donat, tempe goreng tepung yang kriuk-kriuk renyah. Tidak lupa daging dan tulang ayam bumbu kalasan jadi menu favoritnya tiap hari.
Aky ga pernah dikurung. Setiap malam, dia dibiarkan bebas melenggang di dapur. Kebiasaan Aky setiap subuh pasti menggedor-gedor pintu dapur minta dibukakan pintu untuk buang air di luar rumah. Kira-kira jam 6 pagi dia pun kembali menggedor-gedor pintu  sambil sesekali menggaruk-garuk kaca jendela depan minta masuk. Dia juga tahu kalo aku dan kakakku punya kebiasaan sarapan di kamar depan sambil nonton tv. Dia pun duduk manis di bawah jendela yang terbuka lalu minta secuil makanan yang kami sodorkan lewat jendela.
Sebelum berangkat ke kantor, Aky pun diberi makan dan dimasukkan lagi ke dapur hingga kami pulang lagi siang hari pas jam break kantor. 
Saat-saat yang menyenangkan adalah ketika aku datang membuka pintu, dia langsung bergejolak heboh sambil menggoyang-goyangkan ekornya, berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan mmenyambut riang kepulanganku.
Yahh... begitulah rasanya dikangenin dan dinanti-nantikan. Kalo misalnya kita telat menyiapkan makan siangnya, Aky pasti ngambek dan melirik dengan tajam. "Huuuhh... lama banget sih?! Udah laper nih!"
*menyeka air mata yang udah mulai menggenang di pelupuk mata*

Aky juga jago main kejar dan tangkap bola. Aky biasa main bola tenis dan bola basket. Dia bisa menggondol bola tenis di mulutnya sekaligus mencengkeram bola basket dengan keempat kakinya. Maruk banget dah...!!

Aky juga suka banget tidur di kamar AC. Mungkin karena cuaca di kota ini yang sangat panas ditambah dengan bulu Aky yang tebal, membuat dia sering mencari tempat yang teduh dan dingin. Kalo udah tidur, ga jarang Aky tidur telentang dengan keempat kakinya menengadah ke atas. Hahaha...

Satu lagi, Aky jago banget menggali lubang dalam tanah. Entah udah berapa banyak lubang galian yang udah dia buat di sekitar pekarangan. Aaahhh... bakat jadi kontraktor juga dia! Belum lagi hobinya menarik-narik kaos kaki, menyeret-nyeret keset kaki dan menggigit-gigit sapu. Aaaiiihhh... udah banyak barang-barang di rumah yang rusak karena ulahnya.

29 Mei kemarin, Aky mendapat saudara (abang) baru, namanya Buddy - biasa dipanggil Ady. Ady ini jauh lebih tua, mungkin sudah 1 tahun lebih umurnya. Walo lebih tua, badan Ady sedikit lebih pendek daripada Aky. Mungkin karena gizi Aky lebih dari cukup kali yaa... Hehehe
Ady adalah anjing yang kabur ke rumah kakak aku karena ga betah di rumah asal tuannya. Ady aku pelihara karena ga tega mendengar dia akan dibunuh oleh tuannya itu jika masih mendapati di rumah kakak aku. Sejak saat itu, Ady pun resmi dipanggil Abang dan Aky jadi Adik.
Ady sedikit lebih kalem sementara Aky suka rusuh. Ady bisa bertahan bila seharian ga makan, namun Aky jangan ditanya bisa bikin rumah berantakan kalo telat makan. Mereka berdua saling melengkapi! Abang Ady yang udah duluan lahir ke dunia mengajarkan Aky cara berkelahi secara Aky sendiri belum pernah berkelahi dengan anjing mana pun sebelumnya. Aky sepertinya tergila-gila dan menyukai abangnya, Ady. Mereka ga terpisahkan. Berdua mereka mengejar dan mengusir ayam tetangga yang masuk ke halaman rumah, bersama mereka menggali tanah dan membuat kerusuhan lainnya.
Tapi anehnya, sejak 15 Juni kemarin Aky bertingkah aneh. Dia mulai cemburu dengan abangnya. Dia merasa seolah-olah dirinya dinomorduakan, merasa diperlakukan ga adil oleh kami kakak-kakaknya. "Aku duluan ada di rumah ini. Aku dipelihara sejak kecil, kenapa sekarang ada anjing asing disini? Kenapa jatah makananku dibagi dengan dia? Kenapa aku sekarang sering dimarahi karena ga bisa kalem kayak dia? Kenapa? Kenapa...??"
Mungkin kalo Aky protes, dia akan bilang kayak gitu. Secara ekstrim dia mulai menunjukkan kekecewaannya. Dia menyerobot jatah makan abangnya, dia menyalak menggonggongi abangnya yang lagi tiduran, bahkan dia juga ga rela kalo kami mengelus dan membelai abangnya. Menurut Aky, cuma dia yang bisa disayang! Titik.
Mungkin anjing punya batas kesabaran juga kali yaa... Akhirnya Ady pun ga mau tinggal diam lagi. Setelah berhari-hari mencoba kalem menghadapi kelakuan Aky, Ady pun membalas untuk berkelahi. Kali ini mereka berkelahi beneran, ga bercanda seperti biasanya. Aky pincang, dahinya berdarah. Aky kalah, dan dia pun kabur dari rumah.
16 Juni, Aky sempat pulang ke rumah dalam keadaan kucel berlumuran lumpur, basah dan badannya menggigil. Mungkin karena sehari penuh ga makan. Menangis sedih melihat keadaannya saat itu. Langsung kita kasih susu hangat dan sosis kesukaannya. Namun lagi-lagi Ady datang menghampiri dan langsung menyerang Aky. Aky yang udah lemas ga sanggup membalas, dan memilih kabur lagi padahal makanannya belum sempat dihabiskannya. Seharian pun kita habiskan waktu dengan mencari Aky di sekitar kompleks perumahan, namun kayaknya Aky udah kabur terlalu jauh karena takut dan menghindari abangnya.
Kasian Barky kecilku...
Monkey Emoticons

Akiiiiyyyy... pulang ya, Dek. Rumah ini masih rumahmu. Kamu udah aku pelihara dari kecil. Aku tahu kamu paling ga bisa kelaparan. Aku tahu di luar sana terlalu kejam untuk anjing yang ga punya pengalaman liar kayak kamu. Kamu bisa sakit, Dek...
Aku janji bakal terus menyayangi kamu.
Kamu pulang yaaaa...

Coretan Selengkapnya...

Day 8. Movie that Makes Me Feel Blue

Hari Kedelapan
Mengharu biru? Hhmm... pasti mikirnya film-film yang drama percintaan romantis, dimana aktornya ditinggal pergi oleh kekasihnya, ato si aktor meninggal ato apalah yang ada adegan menangisnya.

Eiittsss... belum tentu deh kayaknya. Film yang sanggup membuat saya terharu meneteskan air mata selain film tentang kuda kesayangan yang berpisah dari tuannya karena perang War Horse (2011), adalah film tentang anjing setia Hachiko.



Film diangkat dari kisah nyata di Jepang. Di sebuah kelas, murid-murid sedang menyajikan presentasi mengenai tokoh pahlawan mereka. Seorang anak laki-laki bernama Ronnie menceritakan tentang anjing kakeknya yang bernama Hachiko. Bertahun-tahun yang lampau, seekor anak anjing Akita tiba di Amerika dari Jepang . Di stasiun, anak anjing itu terlepas setelah kandangnya terjatuh dari gerbong barang, dan ditemukan oleh seorang dosen bernama Parker Wilson (Richard Gere). Parker langsung menyukai anak anjing itu. Setelah Carl penjaga stasiun menolak untuk mengurusnya, Parker membawanya pulang ke rumah. Di rumah, istri Parker yang bernama Cate (Joan Allen) keberatan suaminya memelihara anak anjing.
Hari berikutnya, Parker berharap pemilik anjing itu telah menghubungi stasiun kereta api, namun ternyata pemiliknya yang sebenarnya tidak muncul. Parker secara diam-diam mengajak anak anjing itu naik kereta api ke kantor. Di kantor, Parker diberi tahu oleh seorang rekan yang orang Jepang bernama Ken, bahwa tanda di kalung anak anjing itu dibaca sebagai Hachiko, dalam bahasa Jepang,Hachiko berarti nasib baik. Parker lalu memberi nama anak anjing itu, Hachi. Menurut Ken, Parker dan Hachi sudah ditakdirkan untuk saling bertemu. Cate menerima telepon dari seseorang yang ingin memungut Hachi. Namun Cate membiarkan suaminya memelihara Hachi setelah melihat suaminya makin dekat dengan anak anjing itu.
Waktu berlalu, dan Hachi telah menjadi anjing setia Parker. Meskipun demikian, Parker heran Hachi menolak untuk melakukan kebiasaan normal seekor anjing seperti mengejar dan memungut bola. Ken memberi tahu bahwa Hachi hanya akan mau mengambil bola untuk alasan yang istimewa. Suatu pagi, ketika Parker berangkat kerja, Hachi menyelinap ke luar, dan mengikutinya hingga sampai di stasiun kereta api. Hachi menolak ketika disuruh pulang hingga Parker harus mengantarkannya pulang ke rumah. Sore itu, Hachi kembali pergi ke stasiun, dan menunggu hingga kereta api yang dinaiki tuannya datang. Parker akhirnya menyerah, dan membiarkan Hachi mengantarnya ke stasiun setiap hari. Setelah kereta api tuannya berangkat, Hachi pulang sendiri ke rumah, tapi ketika hari sudah sore, ia kembali lagi ke stasiun untuk menjemput. Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput Parker berlangsung beberapa lama. Namun pada suatu siang, Hachi menolak mengantar Parker yang ingin berangkat mengajar. Parker akhirnya berangkat sendirian, tapi Hachi mengejarnya sambil membawa bola. Parker terkejut, tapi senang Hachi akhirnya mau diajak bermain bola. Parker tidak ingin terlambat mengajar, dan pergi juga walaupun dilarang Hachi yang terus menggonggong. Siang itu, Parker yang mengajar sambil memegang bola milik Hachi, terjatuh tak sadarkan diri, dan meninggal dunia.
Di stasiun, Hachi dengan sabar menunggu kedatangan kereta api yang biasanya dinaiki tuannya ketika pulang, namun tuannya tidak juga pulang. Dia menunggu, dan menunggu hingga Michael, menantu Parker membawanya pulang. Keesokan harinya, Hachi kembali ke pergi ke stasiun dan menunggu tuannya. Ia menunggu sepanjang hari dan sepanjang malam. Setelah suaminya meninggal, Cate menjual rumah mereka, dan memberikan Hachi untuk dipelihara oleh anak perempuan Cate yang bernama Andy. Hachi pindah ke rumah Andy yang tinggal bersama suami bernama Michael. Keduanya memiliki bayi bernama Ronnie. Hachi tak lama kemudian lari untuk pulang ke rumah tempat tinggalnya dulu. Ia lalu kembali menunggu tuannya yang tidak kunjung pulang di stasiun. Hachi selalu duduk menunggu di tempat ia biasa menunggu. Penjual makanan di stasiun bernama Jas merasa kasihan, dan memberinya makan hot dog. Andy mencari-cari Hachi, dan menemukannya di stasiun. Hachi diajak pulang, namun keesokan harinya dibiarkan untuk kembali pergi ke stasiun.
Hachi mulai tidur di gerbong kereta yang rusak. Ia berjaga menunggu tuannya sewaktu siang, dan hidup dari makanan dan air yang diberikan oleh Jas dan seorang tukang daging. Pada satu hari, wartawan surat kabar bernama Teddy ingin tahu soal asal usul Hachi. Ia bertanya apakah dirinya dibolehkan menulis cerita tentang anjing itu. Setelah membaca artikel di surat kabar, orang-orang mulai mengirimi Carl uang, dengan pesan agar uang tersebut dibelikan makanan untuk Hachi. Ken sahabat Parker membaca artikel yang ditulis Carl, dan menyatakan kesediaan untuk membayari biaya hidup Hachi. Walaupun Parker sudah setahun meninggal dunia, Ken menyadari Hachi masih ingin dan merasa harus menunggu kepulangan tuannya, serta berharap tuannya masih hidup.
Tahun demi tahun berlalu, dan Hachi masih tetap menunggu di stasiun. Ketika mengunjungi makam Parker, Cate bertemu dengan Ken, dan mengaku dirinya masih merasa kehilangan suaminya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Cate lalu pergi ke stasiun tempat Hachi menunggu. Ia terkejut melihat Hachi yang sudah tua, kotor, dan lemah, namun terus setia menunggu tuannya. Ketika kembali ke rumah, Cate bercerita soal Hachi kepada Ronnie yang sudah berusia 10 tahun. Malam itu, Hachi menunggu di tempatnya biasa menunggu, tempatnya berbaring dan jatuh terlelap, bermimpi bertemu Parker.
Selesai sudah laporan Ronnie tentang Hachi kepada teman-temannya sekelas. Kesetiaan Hachi menunggu Parker, kakek Ronnie, menjadikan Hachi sebagai pahlawan selama-lamanya di mata Ronnie. Sore itu, Ronnie berjalan-jalan bersama seekor anak anjing Akita di tempat kakeknya pernah berjalan-jalan bersama Hachi.
Anjing Hachiko yang sebenarnya, lahir di Odate, Prefektur Akita, Jepang pada tahun 1923. Setelah pemiliknya yang bernama Dr. Eisaburo Ueno, seorang dosen di Universitas Tokyo meninggal dunia pada bulan Mei 1925, keesokan harinya Hachi kembali menunggu kepulangan tuannya di Stasiun Shibuya. Ia terus menunggu, dan menunggu hingga sembilan tahun berikutnya. Hachiko akhirnya mati pada bulan Maret 1935. Patung Hachiko dari perunggu, kini dapat dijumpai di tempatnya biasa menunggu, di luar Stasiun Shibuya, Tokyo.

Coretan Selengkapnya...

Day 7. Movie that is a Guilt but Pleasure

Hari Ketujuh
*celingak-celinguk, toleh kiri-kanan*
Duuhh, bakal ada yang lemparin tomat busuk ga ya?
Fffiiiiuuuuhh... *tarik nafas*

Dengan sedikit rasa malu *menundukkan kepala* saya memilih jrreenng... jrrreeeeng...
American Pie dan para kroninya.







   
Hahaha... Hayyoooo ngaku dah! Di antara kamu juga pasti ada yang nonton bahkan mengoleksi film ini khan?
Film yang cukup konyol, lucu dan menjurus bok*p ini ga semuanya saya ikuti. Saya hanya menonton AP (1999), AP TW (2003), AP BC (2005) dan AP TNM (2006) saja. Abisnya merasa bersalah juga sih menonton film ini. Khan ga boleh yak... Tapi lumayan menyenangkan kok.
Hihihihi...
Monkey Emoticons 
Coretan Selengkapnya...

Jumat, 15 Juni 2012

Day 6. Movie that I Wish More People would've Seen

Hari Keenam
Saya merekomendasikan film ini dan berharap banyak orang menontonnya (lagi) karena film ini benar-benar sarat makna kehidupan.

Perang merenggut segalanya, teman, sahabat, keluarga, bahkan nyawa. Buat Albert Narracott (Jeremy Irvine), perang telah merenggut semua yang ia miliki. Ia dipaksa berpisah dari Joey, kuda yang selama ini telah menyatu dengan kehidupannya. Buat Joey, perang akan menjadi perjalanan panjang yang akan membuktikan kesetiaannya pada seorang sahabat, Albert Narracott.
Saat Perang Dunia II bergejolak, hampir semua sumber daya yang ada dimanfaatkan untuk kepentingan negara. Joey yang memang terlihat gagah, dijual untuk kepentingan perang. Albert tak ingin berpisah dari kuda kesayangannya namun apa boleh buat, negara sedang membutuhkan Joey. Sejak saat itu, Joey resmi menjadi kuda perang. Tak terhitung sudah banyaknya medan pertempuran yang harus dilalui Joey.
Ia sempat mengabdi pada pasukan Inggris namun tak lama kemudian ia berpindah tangan ke tentara Jerman. Sepanjang perjalanan ini juga Joey tak pernah melupakan Albert. Saat garis takdir membawanya ke tanah tak bertuan, Joey harus berjuang mati-matian untuk mencari jalan pulang. Di saat yang sama, Albert yang sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut turun ke medan perang, nekat berangkat untuk mencari sahabatnya yang tercinta.


Steven Spielberg memang piawai dalam memilih topik untuk film-filmnya. Setelah berkali-kali membuat penonton bertepuk tangan, sekali lagi Spielberg menghadirkan tontonan yang bakal menjadi sajian visual tak terlupakan. Diadaptasi dari novel anak-anak karya Michael Morpurgo, film berjudul War Horse ini mengambil seting era Perang Dunia II.
Film ini pun tidak tanggung-tanggung menyabet 6 Oscar dan 8 penghargaan lainnya serta 39 nominasi.
Buat yang belum nonton, buruan deh cari filmya. Buat yang sudah nonton, hayuukk atuh mangga ditonton lagi juga ga apa-apa. Hehehe...

Coretan Selengkapnya...

Day 5. Movie that No One would Expect Me to Love

Hari Kelima
Kali ini tentang film yang ketika saya sebutkan judulnya, teman-teman warna-warni pasti ga akan mengira kalo saya akan suka dengan film itu. Teman-teman pasti bilang "Kok bisa-bisanye sih lu suka ama film nyang ono? Apa bagusnye coba? Kaga ada menariknye!"

Hahaha... pokoknya kalo tebakan saya benar, silakan komen yang banyak ya. Saya juga merasa sama kok. Bahkan, saya pernah diketawain oleh teman dekat saya ketika tahu saya suka banget dengan film itu hingga membuat saya menangis. Film itu sudah pernah tiga kali saya tonton, dan setiap kali menonton pun saya selalu menitikkan air mata (Tuuhh khan..?!)
Hhmmm... siap-siap dijambak ato dilempar sandal deh ama teman-teman.
Yaah... film yang saya sukai tentunya adalah King Kong (2005)
(baca postingan sebelumnya Day 2. Movie that I Love but Others Hate)

Selain yang satu itu, ada juga film yang selalu membuat saya mewek.
Nah, aneh khan? Yang ini dari genre animasi pula. Kok bisa-bisanya membuat saya menangis??
Ya, alasannya juga hampir sama dengan King Kong tapi kali ini sedikit beda. Toh, saya juga ga tertarik dengan adegan saat-saat dimana Tarzan jatuh cinta dengan Jane. Saya justru terharu saat induk gorila betina mengambil bayi Tarzan kecil dari rumah pohon yang sudah hancur akibat diserang oleh macan hingga menewaskan kedua orangtuanya. Induk gorila ini pun menyayangi Tarzan bagai anaknya sendiri, lalu mengasuh dan membesarkan Tarzan hingga menjadi penguasa hutan. Ditambah dengan backsound You'll be In My Heart punya Om Phil Collins, sontak momen ini benar-benar menyentuh banget dah buat saya.
Hewan saja 
hanya punya insting dan naluri, namun mereka bisa mencintai dengan tulus. Beda banget dengan manusia yang punya logika dan perasaan, tapi ga jarang kita mendengar dan melihat berita terjadi kekerasan rumah tangga, perebutan harta dan kekuasaan, ibu tega membunuh anaknya karena dililit hutang, perang saudara, dll.
Nah, masih pengen melempar sandal pertanyaan yang sama kok bisa saya suka dengan film ini??




Pas memposting ini, saya pun sambil memutar klip lagu itu lewat youtube.com. Alhasil, lagu ini lagi-lagi membuat saya bergetar. Hiiikksss...
Monkey Emoticon
Coretan Selengkapnya...

Day 4. Movie that Disappointes Me the Most

Hari Keempat
Biasanya kita bisa kecewa menonton sebuah film (terutama nonton di bioskop), kalo kita udah bela-belain menyediakan waktu luang janjian dengan pacar ato sahabat trus beli tiket mahal-mahal hingga rela antri (apalagi kalo kamu yang kebagian jatah kudu mentraktir dia/mereka) dan ternyata film yang ditonton tersebut mengecewakan!
Mengecewakan dalam arti bukan karena film tersebut jelek, secara kita ga bisa donk sejahat itu menghakimi film yang udah dengan susah payah dibuat hingga mengeluarkan budget milyaran rupiah, tapi mengecewakan bisa jadi dalam arti jalan ceritanya 2x∏xr (rumus untuk keliling lingkaran: muter-muter_red) ato film yang mengusung aktor/aktris ternama tapi dengan karakter yang sebenarnya kurang pas buat mereka karena mungkin terjebak dalam pencitraan tokoh yang sudah sering mereka bawakan sebelumnya.


Saya sedikit terkecoh dan kecewa menonton film Signs (2002)
Film ini terinspirasi oleh banyaknya muncul circle crop di berbagai belahan bumi yang notabene konon adalah buatan para mahluk tak dikenal dari luar angkasa. Saya cukup terkecoh menonton film ini karena saya mengira Mel Gibson yang biasanya berperan dalam film action laga akan  terlibat aksi kejar-kejaran ato berkelahi dengan alien. Mel Gibson hanya berperan sebagai seorang mantan pendeta yang beralih menjadi petani sekaligus pemilik lahan jagung yang sangat luas. Kecewa juga karena jalan ceritanya cukup lambat dan membuat saya nyaris mengantuk. Hehehehe...
Ternyata nama besar sang aktor tidak cukup untuk mendongkrak popularitas film ini. Bahkan film ini juga dapat nominasi Worst Film 2003 lho dari Chainsaw Award. Ckckck...


Coretan Selengkapnya...

Day 3. Movie that I used to Love but now Hate

Hari Ketiga
Saya mungkin akan menyerahkan 'penghargaan-film-yang-dulu-saya-senang-tapi-sekarang-ga-lagi' ini ke film Bring It On dan para sekuelnya deh.




Hhmmm... abis manis sepah dibuang donk?? Kalo dulunya saya pernah suka tapi sekarang malah jadi ga demen sih mungkin karena udah keseringan nonton ato karena selera zaman berubah ato apa yaa...??
Monkey Emoticon
Nonton Bring It On (2000) pertama kali pas zaman SMA. Dulu sih senang aja liat aksi para ABG cheers SMU ini dengan seragam yang two pieces dan perut rata cenderung kotak-kotak (gua banget mah itu dulu!!) dan para cowo gebetan mereka yang pada cute dan babyface juga yang kalo ga pemain dance, senam, yaa pemain basket di sekolahan. Musik pengiringnya juga asyik dengan beat yang menghentak.
Disamping terlalu sering nonton (karena dulu punya koleksinya di kampung halaman), lagi-lagi alasan untuk saya ga menyenangi film-film ini adalah kayaknya faktor 'U' deh.
(Hahaha... ketauan deh yang udah ga abege lagi!)
Mungkin sekarang udah ga bisa selincah mereka akibat lemak-lemak yang juga mulai menumpuk di bagian-bagian tertentu.
(sambil menyanyi "Bajuku dulu tak segini, tapi kini tak cukup lagi...)

Nah, kalo teman warna-warni dulu senang dengan film apa?
Coretan Selengkapnya...

Kamis, 14 Juni 2012

Day 2. Movie that I Love but Others Hate

Hari Kedua
Nah, dari judulnya aja keliatan khan kalo kategori ini murni berdasarkan selera. Orang lain suka, belum tentu saya suka. Sebaliknya, film yang saya gilai abis-abisan belum tentu kamu yang baca ini juga sama. Biasanya orang bisa menonton suatu film itu entah karena jalan cerita dan penokohannya, aktor-aktrisnya, ato karena punya kenangan khusus akan film itu (misal: nonton berdua pas baru jadian ama pacar, nonton rame-rame karena selebrasi kelulusan, dll).

Film yang saya suka tapi orang lain belum tentu suka adalah King Kong (2005)

Alasan klasik orang-orang mungkin ga suka dengan film ini adalah D-U-R-A-S-I. Ya, dengan waktu tayang 188 menit (tiga jam lebih), orang tentu akan malas berlama-lama menjejakkan pantat ato buat kamu yang menontonnya lewat DVD/VCD player ato komputer, kamu pasti akan lebih memilih untuk skip dan mempercepat adegan di tiga puluh menit awal karena terasa membosankan.
Pada awal tahun 1930-an, Carl Denham (Jack Black)  adalah pembuat film  dan petualang pemberani yang amat terkenal karena mendokumentasikan gambar satwa liar dan di daerah rimba yang terpencil dan berbahaya,  meskipun pihak studio keberatan  untuk mendanainya. Denham berencana untuk membuat film  berikutnya  dengan menaiki sebuah kapal untuk menuju Pulau Tengkorak (Skull Island),  sebuah pulau yang belum  terpetakan  yang dia  temukan di sebuah peta langka,  yang mana pulau itu akan menjadi lokasi syutingnya. Dengan meyakinkan para kru dan pemain film untuk menaiki kapal,  Denham mengatakan bahwa mereka akan mengambil lokasi syuting di Singapura.  Namun sebelum berlayar, sang aktris utama mundur dari proyek film tersebut.  Memerlukan seorang aktris cantik yang bersedia mengambil resiko,  Denham menemukan Ann Darrow (Naomi Watts), si cantik yang pernah bekerja di panggung pertunjukan yang telah pailit. Denham menawarkan peran tersebut dan Ann menerimanya.

Sesampainya di atas kapal, Ann bertemu dengan Jack Driscoll, si penulis drama yang amat dia puja karyanya.  Jack ikut dengan kapal menuju ke Pulau Tengkorak selain karena dijebak oleh Denham,  dia juga merupakan  penulis naskah  dari film epik yang akan dibuat oleh Denham.

Ketika Denham dan kawan-kawan tiba di Pulau Tengkorak, penduduk pribumi yang buas menyerang mereka, tapi itu hanyalah  sedikit masalah yang mereka hadapi. Pulau Tengkorak adalah sebuah tempat perlindungan bagi kehidupan prasejarah yang mana dihuni oleh banyak  dinosaurus  dan seekor makhluk buas lain  bernama Kong, seekor gorila  dengan tinggi 25 kaki yang lebih kuat dari makhluk apa pun yang ada di Bumi. Penduduk pribumi lalu menculik Ann, memberikannya pada Kong sebagai tumbal untuk memenuhi kebutuhan si Kong. Denham dan para krunya pergi mencari  dan menyelamatkan Ann, bersama  dengan Jack Driscoll yang bertekad untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya.

Akhirnya, Driscoll berhasil  menemukan Ann dan Denham  mengelabuhi Kong dan menangkap kemudian  membawa makhluk raksasa itu ke New York untuk ditampilkan ke khalayak ramai sebagai hiburan untuk mencari keuntungan.  Tapi Kong memiliki ikatan  dengan Ann Darrow. Dalam pencariannya terhadap Ann, kota New York pun menjadi sasaran amuk kemarahan Kong.

Yang membuat saya suka ama film ini sih kedengaran rada klise: romantisme cinta antara hewan dan manusia! Ya, silakan tertawa sepuasnya tapi alasan ini emang apa adanya. Seekor hewan buas aja tahu bagaimana cara mencintai dengan segenap hati dan jiwa (Eehh... hewan punya jiwa ga ya?) serta mau berkorban nyawa demi menjaga dan melindungi yang dikasihinya.


Adegan yang bikin saya sempat menitikkan air mata adalah saat Kong dan Ann memandang matahari keemasan yang mulai tenggelam dari balik tebing, dan saat bermain seluncur berdua di salju menikmati saat terakhir Kong.
(duuhh... kok mewek begini yak?!)
Monkey Wink Yoyo


Bukan cuma itu aja kok. Adegan saat Kong berkelahi di jurang dengan para dinosaurus juga patut diacung jempol. Efeknya benar-benar terlihat nyata, seru dan menegangkan! Menghibur deh pokoknya... (Yeah, walo kayaknya ada yang missed disini. Film ini setting abad 20, sementara dinosaurus sendiri khan udah punah dari zaman kapan gitu!)
Film ini cukup impresif, hasil besutan seorang yang dulunya hanya sutradara horor kelas B namun sanggup mengantongi 3 Oscar, 22 penghargaan dan 47 nominasi lainnya.

Jadi... ga salah khan kalo saya suka dengan film ini?

Monkey Icon Cici
Coretan Selengkapnya...

Day 1. Movie that I Hate

Hari Pertama

Yup, hari pertama 30 Hari Mencari Film ini saya mulai dengan film yang saya benci. Uhm... lebih tepatnya sih yang saya ga suka.
Untuk kategori ini, saya akan dengan berbangga hati menyerahkannya pada film-film bergenre horor, berbau mistik dan dengan sedikit bumbu esek-esek (terutama yang buatan dalam negeri).
Tidak perlu menyebutkan judul film dan me-review satu-persatu, membayangkannya aja udah membuat saya males dan pengen cepet-cepet ke toilet. Alasan saya ga suka dengan genre film ini adalah saya ogah banget kalo seabis nonton, bawaannya jadi freak bin parno, takut gelap, takut di rumah sendirian, takut kalo misal tiba-tiba lagi buka lemari ada potongan jari, takuuuuuttt...

Monkey Emoticon
IIhhh... pokoknya ga banget dah! Kok bisa-bisanya yaa orang-orang rela bayar tiket mahal ke bioskop menonton film horor, trus pada menjerit-jerit ga jelas, pas malam hari pula??  Salut dah...
Apa ga takut gitu pulang malam hari naik motor di belakang ada perempuan pucat berambut panjang nebeng duduk manis di jok motor?? Ato ga takut apa misal pas pulang nonton kelaparan dan pengen beli nasi goreng ato tukang sate yang lewat, ternyata ga punya wajah?? Hhiiiiyyyy...

Kalo saya mah, duit tiket dan duit buat beli popcorn-nya mending buat saya beli pulsa aja dah.

Coretan Selengkapnya...

30 Hari Mencari Film

Halo teman warna-warni.
Wah, lama juga nih saya tidak nyoret-nyoret sesuatu disini. Saya tidak akan mengelak untuk mencari pembenaran diri segala macam, karena toh emang saya juga lagi bingung mau mem-post apa.
Hhmmm... Belakangan ini saya lagi gila-gilaan keranjingan mengunduh film. Mumpung koneksi internet lagi kencang banget, kenapa tidak digunakan untuk mengunduh file dalam ukuran besar sekalian?? Hehehe... Alhasil, mata saya sepertinya membutuhkan kacamata dengan kekuatan minus yang lebih besar lagi nih.

Monkey Icons
Cukup basa-basinya! Karena alasan koneksi internet yang sudah berpihak lagi dengan saya, maka saya pun berjanji dan berniat untuk mulai rajin posting lagi. Postingan kali ini pun tentu ada kaitannya dengan hobi baru saya belakangan ini yang tak lain tak bukan adalah mengunduh film.

Yap, 30 Hari Mencari Film!

"Lho, ini bukan Fim 30 Hari Mencari Cinta khan ya?"
Hehehe, ya nggak donk... Secara saya memang bukan pencinta dan penikmat film-film buatan dalam negeri. Apa yaah, tidak usah disebutkan juga mungkin teman-teman warna-warni sudah tahu sendiri bagaimana kualitas film anak negeri yang belakangan sih saya akui sudah terlihat mulai mengembangkan sayap mencoba bersaing dengan film-film skala internasional.
Anyway, dalam 30 Hari Mencari Film ini saya mencoba mau bongkar-bongkar rak memori koleksi film yang sudah saya tonton selama ini. Hhmmm... Mungkin sedikit menguras energi sih mengingat sudah ada ratusan film yang sudah saya tonton dan lupa akan plot cerita dan tokohnya.

Berikut daftar film yang akan saya 'cari' dalam 30 postingan ke depan:
 1. movie that I hate
 2. movie that I love but others hate
 3. movie that I used to love but now hate
 4. movie that disappointed me the most
 5. movie that no one would expect me to love
 6. movie that I wish more people would've seen
 7. movie that is a guilt but pleasure
 8. movie that makes me feel blue
 9. movie that makes me really really happy
10. movie that change my opinion about something
11. most surprising plot or twist ending
12. movie from my childhood
13. movie that I wish I had seen in cinema
14. best movie that I saw during 2011
15. awesome movie idea
16. character who I can relate to the most
17. countless time movie I have seen
18. favorite documentary
19. favorite classic movie
20. favorite love story in movie
21. favorite drama
22. favorite TV serial
23. favorite movie soundtrack
24. favorite war movie
25. favorite movie from favorite actor/actrees
26. favorite movie from favorite director
27. favorite animation movie
28. favorite action movie
29. favorite Indonesian movie
30. favorite movie all time

Hhhmmm... siap-siap berburu film dulu nih. Sampai ketemu di postingan berikutnya.

Coretan Selengkapnya...